Blog EntryMengapa Harus Berbeda (2)Aug 1, '05 6:46 AM
for everyone
***

Setelah masuk SMP, barulah si remaja ini menemukan Muhammadiyah yang “sebenarnya”. Ternyata Muhammadiyah itu bukan yang dia anggap berbeda selama ini. Muhammadiyah itu “Allahumma ba’id…” bukan “Allaahu akbar kabiira…”. Muhammadiyah itu adzan Jumat satu kali, bukan dua kali. Muhammadiyah itu sujudnya tanpa “wa bihamdih..”. Muhammadiyah itu di masjidnya tidak ada pupujian dan tidak suka shalawat. Apalagi Barjanzi.

Dengan bertambahnya pengetahuan tentang Muhammadiyah itu, makin kuatlah dia menggenggam ke-NU-annya. Wah… sesat tuh Muhammadiyah. Di dalam NU bolehlah berbeda-beda, tapi kalau sudah Muhammadiyah, no way

Semangatnya untuk mempelajari fikih NU menggebu-gebu. Waktu senggangnya diisi dengan mempelajari buku-buku fikih. Begitu ada “bau-bau” Muhammadiyah, disingkirkannya jauh-jauh…

Pada saat SMU, dari buku Aqidah-nya karangan KH Sirajuddin Abbas (NU), si remaja ini sudah mengenal tentang Imam-imam Madzhab. Dalam NU dikenal empat Imam Madzhab yang diakui oleh Ahlu Sunnah wal Jamaah. (Tentu saja NU adalah Ahlu Sunnah, sedangkan Muhammadiyah itu Ahlu Bid’ah, demikian pikirnya waktu itu).

Keempat Imam yang diakui itu adalah Imam Syafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Abu Hanifah. Jadi, Imam Ahmad bin Hanbal yang sering diklaim orang Muhammadiyah itu ternyata Imamnya orang NU juga.

Oleh sebab itulah dia bersemangat sekali waktu membaca terjemahan kitab Shalatnya Imam Ahmad bin Hanbal. Dan runtuhlah ke-NU-sentrisan dia waktu dia membaca bahwa ternyata doa-doa shalat orang NU dan orang Muhammadiyah ternyata ada semua di buku itu.

Di sini dia termenung. Ternyata Imam Ahmad bin Hanbal itu milik NU dan juga milik Muhammadiyah. Rasa penasaran membuatnya tidak takut mempelajari fikih Muhammadiyah. Dan memang ada perbedaan di sana-sini, namun banyak juga persamaannya. Mengapa? Kitab rujukannya sama. Qurannya sama, haditsnya sama-sama mengambil dari Kutubus-Sittah (bahkan Kutubut-Tis’ah..). Imam madzhabnya sama-sama yang empat itu.

Maka dia pun mengambil kesimpulan (dengan menyesali kebencian-kebencian masa lalunya terhadap Muhammadiyah), biarlah, mau NU, mau Muhammadiyah, toh masih sama-sama Ahlu Sunnah wal Jamaah… Bergaullah dia dengan orang-orang Muhammadiyah sebagaimana dia bergabung dengan orang-orang NU.

Bersambung ke: Mengapa Harus Berbeda (3)


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help