***
Setelah masuk SMP, barulah si
remaja ini menemukan Muhammadiyah yang “sebenarnya”. Ternyata Muhammadiyah itu
bukan yang dia anggap berbeda selama ini. Muhammadiyah itu “Allahumma ba’id…”
bukan “Allaahu akbar kabiira…”. Muhammadiyah itu adzan Jumat satu kali,
bukan dua kali. Muhammadiyah itu sujudnya tanpa “wa bihamdih..”.
Muhammadiyah itu di masjidnya tidak ada pupujian dan tidak suka shalawat.
Apalagi Barjanzi.
Dengan bertambahnya pengetahuan
tentang Muhammadiyah itu, makin kuatlah dia menggenggam ke-NU-annya. Wah… sesat
tuh Muhammadiyah. Di dalam NU bolehlah berbeda-beda, tapi kalau sudah
Muhammadiyah, no way…
Semangatnya untuk mempelajari
fikih NU menggebu-gebu. Waktu senggangnya diisi dengan mempelajari buku-buku
fikih. Begitu ada “bau-bau” Muhammadiyah, disingkirkannya jauh-jauh…
Pada saat SMU, dari buku
Aqidah-nya karangan KH Sirajuddin Abbas (NU), si remaja ini sudah mengenal
tentang Imam-imam Madzhab. Dalam NU dikenal empat Imam Madzhab yang diakui oleh
Ahlu Sunnah wal Jamaah. (Tentu saja NU adalah Ahlu Sunnah, sedangkan
Muhammadiyah itu Ahlu Bid’ah, demikian pikirnya waktu itu).
Keempat Imam yang diakui itu
adalah Imam Syafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Abu
Hanifah. Jadi, Imam Ahmad bin Hanbal yang sering diklaim orang Muhammadiyah itu
ternyata Imamnya orang NU juga.
Oleh sebab itulah dia
bersemangat sekali waktu membaca terjemahan kitab Shalatnya Imam Ahmad bin
Hanbal. Dan runtuhlah ke-NU-sentrisan dia waktu dia membaca bahwa ternyata
doa-doa shalat orang NU dan orang Muhammadiyah ternyata ada semua di buku itu.
Di sini dia termenung.
Ternyata Imam Ahmad bin Hanbal itu milik NU dan juga milik Muhammadiyah. Rasa
penasaran membuatnya tidak takut mempelajari fikih Muhammadiyah. Dan memang ada
perbedaan di sana-sini, namun banyak juga persamaannya. Mengapa? Kitab
rujukannya sama. Qurannya sama, haditsnya sama-sama mengambil dari
Kutubus-Sittah (bahkan Kutubut-Tis’ah..). Imam madzhabnya sama-sama yang empat
itu.
Maka dia pun mengambil
kesimpulan (dengan menyesali kebencian-kebencian masa lalunya terhadap
Muhammadiyah), biarlah, mau NU, mau Muhammadiyah, toh masih sama-sama Ahlu
Sunnah wal Jamaah… Bergaullah dia dengan orang-orang Muhammadiyah sebagaimana
dia bergabung dengan orang-orang NU.
Bersambung ke: Mengapa Harus Berbeda (3)