Blog EntrySulitnya Jadi Orang AwamJul 22, '05 11:27 PM
for everyone

Menjadi orang awam itu repot.

<>Kalau mengikuti (taqlid) ke pendapat seorang ulama, dia dianggap kolot dan tidak mau berfikir kritis.

Kalau mau baca buku sendiri, dihardik, ‘kamu kalau baca buku harus dibimbing orang yang lebih tahu.”

<>Kalau baca ayat Al-Quran, nggak ngerti artinya. Baca terjemahan Depag, kadang malah bingung. Bahasanya berbelit-belit, kaya bahasa sastra angkatan 20-an. Mau nyari artinya di kamus, tetap susah sebab dasar-dasar bahasa Arab pun tidak paham. Kamus Arab kan disusun dengan kaidah bahasa Arab. Mau nyari di kitab Asbaabun-Nuzul, lha uangnya dari mana, wong buat makan aja susah, masa mau beli buku atau jadi anggota perpustakaan. Lagian kalau dapat terjemahannya, ilmu Hadits pun tidak tahu, jadi nggak bisa menimbang hadits mana yang bisa dipercaya, mana yang tidak.

Mentok-mentoknya, nanya lagi ke Ustadz/Kiai yang paling dekat rumah, atau yang paling dipercaya.

<>Kalau nemu masalah agama, bingung. Mau baca buku, nggak punya. Kalaupun baca, buku-buku ditulis dengan gaya bahasa orang-orang pandai. Nyari di Quran, Hadits, nggak mampu. Nyari di kitab fikih, lihat hurufnya kayak makaroni berderet-deret, nggak ada harakatnya, pusing. Nanya ke Ustadz/Kiai lewat radio/tivi, suka nggak puas (jawabannya ngambang…). Ujung-ujungnya, nanya lagi ke Ustadz/Kiai yang paling dekat rumah, atau yang paling dipercaya.
<>
Seorang Ustadz/Kiai dekat rumah, bagi seorang awam adalah jalan kebenaran. Maka tidak heran, bila orang awam sudah mempercayai seorang Ustadz/Kiai, dia bisa mematuhi tanpa reverse sedikit pun atas kata-kata Ustadz/Kiainya itu. Bila pada seorang guru yang (hanya) membimbing masalah duniawi anaknya saja orang awam itu sangat hormat, apalagi kepada seorang Ustadz/Kiai yang dia membimbing jalan keselamatan dia ke Akhirat.

<>Tentu saja Anda (Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya serta Nona-nona yang terbiasa dengan pola pikir intelektual, kritis, dan selalu bertanya, serta mampu “bergelimang” literatur, entah berbahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Inggris, ataupun Arab), akan sulit memahami betapa seorang pembimbing spiritual bagi orang awam adalah laksana matahari bagi bumi, dan Ustadz/Kiai adalah jalan keselamatan itu sendiri. 

Anda yang terdidik, cerdas, kritis, dan “bergelimang” literatur, akan sangat mudah menemukan jalan kebenaran. Anda mampu menjadi matahari bagi diri sendiri bahkan orang lain. Anda dapat menemukan hukum-hukum atas masalah-masalah yang pelik dengan bantuan literatur dan daya intelektual Anda yang sudah terasah tajam. 

<>Tapi bagi orang awam? Sekadar cara membagi waris, zakat, cara wudlu, hingga cara shalat agar khusyuk, semuanya siapa yang dapat menunjukkan? Ustadz/Kiai. Hukum nonton telenovela, ikutan kuis sepakbola, sampai hukumnya memilih partai/capres tertentu pun, ditanyakan ke Ustadz/Kiai. Cara mengakikahkan anak, mengkhitan, menikahkan anak sampai ngurus jenazah, siapa lagi sumbernya selain Ustadz/Kiai.  <>

Maka jangan salahkan orang awam, yang terpesona oleh Ustadz/Us­tadzah/Kiai secara “berlebih-lebihan” kalau menurut ukuran orang-orang “intelek” seperti Anda. Bagi orang awam, Ustadz/Us­tadzah/Kiai adalah orang yang baik, sopan, ramah-tamah, penuh pengertian kepada orang awam. Ustadz/Kiai membimbing orang-orang awam itu dari sejak kelahiran mereka sampai masuk liang kubur. Maka jangan salahkan juga kalau orang-orang awam itu masih suka ‘mencari berkah’ dari sekadar bersalaman dengan mencium tangan Ustadz/Kiainya. Dan bagi mereka, berkah yang lebih besar lagi akan diperoleh bila mereka merasa benar-benar mematuhi ajaran dari Ustadz/Kiai tsb dengan sepatuh-patuhnya.

Siapa lagi yang lebih pantas kita taati, hormati, dan cintai selain orang yang kita yakini akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat?

Kalau Anda masih mampu bersikap kritis, mencari literatur, membandingkan rerefensi (dalil-dalil) dari suatu permasalahan, maka Anda tidak lagi disebut orang awam. Anda adalah cendekiawan. Jadi, bersikaplah sebagai cendekiawan, jangan sok mengaku orang awam saat mengkritisi pendapat cendekiawan lain. Seorang cendekiawan pasti selalu siap membuka diri terhadap kebenaran, dari mana pun asalnya. Dan siap mempertanggungjawabkan pendapatnya secara terbuka.


perjalankan wrote on Aug 17, '05, edited on Aug 17, '05
betapa seorang pembimbing spiritual bagi orang awam adalah laksana matahari bagi bumi,
Ya ....... dengan cahayanya kita ikut terrahmati dan terberkahi. Amin.
perjalankan wrote on Aug 17, '05
Seorang cendekiawan pasti selalu siap membuka diri terhadap kebenaran, dari mana pun asalnya. Dan siap mempertanggungjawabkan pendapatnya secara terbuka.
hmmmmmmmmmmmmmm ............................
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help