Menjadi orang awam itu repot.
<>
Kalau mengikuti (
taqlid)
ke pendapat seorang ulama, dia dianggap kolot dan tidak mau berfikir kritis.>
Kalau mau baca buku sendiri,
dihardik, ‘kamu kalau baca buku harus dibimbing orang yang lebih tahu.”
<>
Kalau baca ayat Al-Quran, nggak
ngerti artinya. Baca terjemahan Depag, kadang malah bingung. Bahasanya
berbelit-belit, kaya bahasa sastra angkatan 20-an. Mau nyari artinya di kamus,
tetap susah sebab dasar-dasar bahasa Arab pun tidak paham. Kamus Arab
kan disusun dengan
kaidah bahasa Arab. Mau nyari di kitab Asbaabun-Nuzul, lha uangnya dari mana,
wong buat makan aja susah, masa mau beli buku atau jadi anggota perpustakaan.
Lagian kalau dapat terjemahannya, ilmu Hadits pun tidak tahu, jadi nggak bisa menimbang
hadits mana yang bisa dipercaya, mana yang tidak.>
Mentok-mentoknya, nanya lagi ke
Ustadz/Kiai yang paling dekat rumah, atau yang paling dipercaya.
<>
Kalau nemu masalah agama,
bingung. Mau baca buku, nggak punya. Kalaupun baca, buku-buku ditulis dengan
gaya bahasa orang-orang
pandai. Nyari di Quran, Hadits, nggak mampu. Nyari di kitab fikih, lihat
hurufnya kayak makaroni berderet-deret, nggak ada harakatnya, pusing. Nanya ke
Ustadz/Kiai lewat radio/tivi, suka nggak puas (jawabannya ngambang…). Ujung-ujungnya,
nanya lagi ke Ustadz/Kiai yang paling dekat rumah, atau yang paling dipercaya.>
<>
Seorang Ustadz/Kiai dekat rumah,
bagi seorang awam adalah jalan kebenaran. Maka tidak heran, bila orang awam
sudah mempercayai seorang Ustadz/Kiai, dia bisa mematuhi tanpa
reverse
sedikit pun atas kata-kata Ustadz/Kiainya itu. Bila pada seorang guru yang
(hanya) membimbing masalah duniawi anaknya saja orang awam itu sangat hormat,
apalagi kepada seorang Ustadz/Kiai yang dia membimbing jalan keselamatan dia ke
Akhirat.
><>Tentu saja Anda (Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya
serta Nona-nona yang terbiasa dengan pola pikir intelektual, kritis, dan selalu
bertanya, serta mampu “bergelimang” literatur, entah berbahasa Indonesia, Jawa,
Sunda, Inggris, ataupun Arab), akan sulit memahami betapa seorang pembimbing
spiritual bagi orang awam adalah laksana matahari bagi bumi, dan Ustadz/Kiai
adalah jalan keselamatan itu sendiri.
>
Anda yang terdidik, cerdas, kritis,
dan “bergelimang” literatur, akan sangat mudah menemukan jalan kebenaran. Anda
mampu menjadi matahari bagi diri sendiri bahkan orang lain. Anda dapat
menemukan hukum-hukum atas masalah-masalah yang pelik dengan bantuan literatur
dan daya intelektual Anda yang sudah terasah tajam.
<>Tapi bagi orang awam? Sekadar
cara membagi waris, zakat, cara wudlu, hingga cara shalat agar khusyuk,
semuanya siapa yang dapat menunjukkan? Ustadz/Kiai. Hukum nonton telenovela,
ikutan kuis sepakbola, sampai hukumnya memilih partai/capres tertentu pun,
ditanyakan ke Ustadz/Kiai. Cara mengakikahkan anak, mengkhitan, menikahkan anak
sampai ngurus jenazah, siapa lagi sumbernya selain Ustadz/Kiai.>
<>
Maka jangan salahkan orang awam,
yang terpesona oleh Ustadz/Ustadzah/Kiai secara “berlebih-lebihan” kalau
menurut ukuran orang-orang “intelek” seperti Anda. Bagi orang awam, Ustadz/Ustadzah/Kiai
adalah orang yang baik, sopan, ramah-tamah, penuh pengertian kepada orang awam.
Ustadz/Kiai membimbing orang-orang awam itu dari sejak kelahiran mereka sampai
masuk liang kubur. Maka jangan salahkan juga kalau orang-orang awam itu masih
suka ‘mencari berkah’ dari sekadar bersalaman dengan mencium tangan
Ustadz/Kiainya. Dan bagi mereka, berkah yang lebih besar lagi akan diperoleh
bila mereka merasa benar-benar mematuhi ajaran dari Ustadz/Kiai tsb dengan
sepatuh-patuhnya.>
Siapa lagi yang lebih pantas kita
taati, hormati, dan cintai selain orang yang kita yakini akan menyelamatkan
kita di dunia dan akhirat?
Kalau Anda masih mampu
bersikap kritis, mencari literatur, membandingkan rerefensi (dalil-dalil) dari
suatu permasalahan, maka Anda tidak lagi disebut orang awam. Anda adalah
cendekiawan. Jadi, bersikaplah sebagai cendekiawan, jangan sok mengaku
orang awam saat mengkritisi pendapat cendekiawan lain. Seorang cendekiawan
pasti selalu siap membuka diri terhadap kebenaran, dari mana pun asalnya. Dan
siap mempertanggungjawabkan pendapatnya secara terbuka.