Blog EntryMengapa Harus Berbeda?Jul 22, '05 11:21 PM
for everyone

“Orang yang mengatakan telah menemukan kebenaran bukanlah seorang pencari kebenaran. [Seorang pencari kebenaran senantiasa mempertanyakan kebenaran yang dia jumpai, dan menggalinya untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam lagi. Manakala orang telah berhenti mencari kebenaran, maka] dia bukanlah manusia, bahkan derajatnya lebih rendah dari hewan. Sebab binatang memang hanya diberi naluri yang hanya mengikuti kebenaran yang ‘ditanamkan’ ke dalam dirinya, sedangkan manusia diberi akal untuk senantiasa mencari kebenaran dengan mempelajari seluruh semesta.” (dari Hazrat Ali, Hikmah dari Timur, Idris Shah, Penerbit Pustaka)

***

Seorang bayi dilahirkan di sebuah lingkungan Islam yang fanatik. Kelahirannya disambut dengan adzan dan iqamat oleh orang tuanya, dan beberapa hari kemudian diadakan pengajian dan pembacaan Barjanzi (orang Sunda menyebutnya Marhabaan) oleh orang-orang sekampung, sebagaimana bayi-bayi lain yang lahir di lingkungan tersebut. Bayi itu pun tumbuh dalam lingkungan yang senantiasa menggemakan ‘pupujian’ dan shalawat di masjid dan ‘langgar’ (surau, mushalla) sebelum shalat jamaah dimulai. Nama-nama keluarga suci Nabi yang sering disebut-sebut dalam shalawat, Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain lekat sekali dalam pupujian di kampung-kampung. Bahkan tradisi membuat bubur merah putih waktu Asyura pun dipersembahkan untuk kedua cucu Nabi. Putih lambang untuk Sayyidina Hasan yang cinta damai, dan merah untuk Sayyidina Husain yang menempuh jalan perjuangan semerah darah.

Selepas balita, orang tuanya pindah ke kota lain, masih dalam suasana lingkungan yang mirip. Bedanya, lingkungan yang baru ini sudah memiliki speaker di masjid-masjid dan langgar-langgar-nya, hingga orang sekampung pun ikut mendengar pupujian dan shalawat yang dibacakan dari rumah masing-masing.

Dari sinilah masalah muncul. Si anak, yang terbiasa dengan nada-nada pupujian dan shalawat yang dibaca di masjid terdekat, kadang merasa “gatal” dengan nada dan bacaan masjid lain yang berbeda. Yang benar kan yang di sini, pikirnya. Maka, tiap kali ikut membaca pupujian di masjid, dikeras-keraskanlah suaranya dengan penuh semangat, untuk mempertahankan keyakinannya, bahwa pupujian inilah yang benar.

Lama-lama, karena tuntutan waktu juga, akibat perjalanan menuju sekolah atau ke tempat lain, mampir juga dia ke masjid lain, dan akhirnya terbiasa juga dengan pupujian yang lain yang dia anggap salah itu. Ternyata ada sangat banyak nada dan bacaan pupujian, dan semuanya ternyata bagus-bagus isinya. Maka dia pun tidak lagi mempermasalahkan nada dan bacaan shalawat/pupujian yang berbeda-beda itu.

Suatu ketika, di seberang kampungnya berdiri satu mesjid baru lagi. Sebagian pengurus masjid yang lama “hijrah” ke masjid baru itu. Si anak yang tidak tahu apa-apa, merasa heran karena di kalangan orang yang lebih dewasa terjadi “perang dingin”, terutama antara pendukung masjid lama dan masjid baru. Hingga pada saat Ramadlan, terkuaklah apa yang menjadi salah satu bahan “perang dingin” itu. Ternyata di masjid baru itu orang shalat Tarawih dengan “hanya” 8 rakaat + 3 witir. Sementara di masjid lama menggunakan pola 20+3.

Si anak, karena terbiasa dengan pola lama, jadi ikut-ikutan merasa “gatal” pula dengan perbedaan itu. Baginya, yang benar adalah 20+3.  Karena dia sudah terbiasa mendengar jamaah di kampungnya disebut NU, maka dia pun berfikir, NU-lah yang benar. Wah, kalau begitu, kelompok lain itu pasti Muhammadiyah… Memang sudah jadi kebiasaan di kampungnya waktu itu, untuk selalu ‘men-cap’ orang yang berbeda dengan ‘Muhammadiyah’. Dan Muhammadiyah pasti nggak bener…

Setelah dia menginjak remaja, tak sengaja dia tahu bahwa kedua masjid yang “berseteru” itu, ternyata masih sama-sama NU-nya. Di masing-masing rumah pengurus masjidnya terpampang besar-besar gambar bola dunia yang dilingkari tali. Logo NU. Lantas, mengapa sesama NU kok berbeda, demikian pikirnya…

Bersambung ke: Mengapa Harus Berbeda (2)

perjalankan wrote on Aug 17, '05
Lantas, mengapa sesama NU kok berbeda, demikian pikirnya…
mestinya kalo dah terbiasa ´ditempatkan´ pada perbedaan-perbedaan, dia bisa sedikit mengerti .... hmmm..., cuma gumaman saya aja.
alifayogananda wrote on Aug 18, '05
makanya cerita ini bersambung...:p
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help