“Orang yang mengatakan telah
menemukan kebenaran bukanlah seorang pencari kebenaran. [Seorang pencari
kebenaran senantiasa mempertanyakan kebenaran yang dia jumpai, dan menggalinya
untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam lagi. Manakala orang telah berhenti
mencari kebenaran, maka] dia bukanlah manusia, bahkan derajatnya lebih rendah
dari hewan. Sebab binatang memang hanya diberi naluri yang hanya mengikuti
kebenaran yang ‘ditanamkan’ ke dalam dirinya, sedangkan manusia diberi akal
untuk senantiasa mencari kebenaran dengan mempelajari seluruh semesta.” (dari
Hazrat Ali, Hikmah dari Timur, Idris Shah, Penerbit Pustaka)
***
Seorang bayi dilahirkan di
sebuah lingkungan Islam yang fanatik. Kelahirannya disambut dengan adzan dan iqamat
oleh orang tuanya, dan beberapa hari kemudian diadakan pengajian dan pembacaan
Barjanzi (orang Sunda menyebutnya Marhabaan) oleh orang-orang sekampung,
sebagaimana bayi-bayi lain yang lahir di lingkungan tersebut. Bayi itu pun
tumbuh dalam lingkungan yang senantiasa menggemakan ‘pupujian’ dan shalawat di
masjid dan ‘langgar’ (surau, mushalla) sebelum shalat jamaah dimulai. Nama-nama
keluarga suci Nabi yang sering disebut-sebut dalam shalawat, Ali, Fatimah,
Hasan, dan Husain lekat sekali dalam pupujian di kampung-kampung. Bahkan
tradisi membuat bubur merah putih waktu Asyura pun dipersembahkan untuk kedua
cucu Nabi. Putih lambang untuk Sayyidina Hasan yang cinta damai, dan merah
untuk Sayyidina Husain yang menempuh jalan perjuangan semerah darah.
Selepas balita, orang tuanya
pindah ke kota
lain, masih dalam suasana lingkungan yang mirip. Bedanya, lingkungan yang baru
ini sudah memiliki speaker di masjid-masjid dan langgar-langgar-nya, hingga orang
sekampung pun ikut mendengar pupujian dan shalawat yang dibacakan dari rumah
masing-masing.
Dari sinilah masalah muncul.
Si anak, yang terbiasa dengan nada-nada pupujian dan shalawat yang dibaca di
masjid terdekat, kadang merasa “gatal” dengan nada dan bacaan masjid lain yang
berbeda. Yang benar kan
yang di sini, pikirnya. Maka, tiap kali ikut membaca pupujian di masjid,
dikeras-keraskanlah suaranya dengan penuh semangat, untuk mempertahankan
keyakinannya, bahwa pupujian inilah yang benar.
Lama-lama, karena tuntutan
waktu juga, akibat perjalanan menuju sekolah atau ke tempat lain, mampir juga
dia ke masjid lain, dan akhirnya terbiasa juga dengan pupujian yang lain yang
dia anggap salah itu. Ternyata ada sangat banyak nada dan bacaan pupujian, dan
semuanya ternyata bagus-bagus isinya. Maka dia pun tidak lagi mempermasalahkan
nada dan bacaan shalawat/pupujian yang berbeda-beda itu.
Suatu ketika, di seberang
kampungnya berdiri satu mesjid baru lagi. Sebagian pengurus masjid yang lama
“hijrah” ke masjid baru itu. Si anak yang tidak tahu apa-apa, merasa heran
karena di kalangan orang yang lebih dewasa terjadi “perang dingin”, terutama
antara pendukung masjid lama dan masjid baru. Hingga pada saat Ramadlan,
terkuaklah apa yang menjadi salah satu bahan “perang dingin” itu. Ternyata di
masjid baru itu orang shalat Tarawih dengan “hanya” 8 rakaat + 3 witir.
Sementara di masjid lama menggunakan pola 20+3.
Si anak, karena terbiasa
dengan pola lama, jadi ikut-ikutan merasa “gatal” pula dengan perbedaan itu.
Baginya, yang benar adalah 20+3. Karena
dia sudah terbiasa mendengar jamaah di kampungnya disebut NU, maka dia pun
berfikir, NU-lah yang benar. Wah, kalau begitu, kelompok lain itu pasti
Muhammadiyah… Memang sudah jadi kebiasaan di kampungnya waktu itu, untuk selalu
‘men-cap’ orang yang berbeda dengan ‘Muhammadiyah’. Dan Muhammadiyah pasti
nggak bener…
Setelah dia menginjak remaja,
tak sengaja dia tahu bahwa kedua masjid yang “berseteru” itu, ternyata masih
sama-sama NU-nya. Di masing-masing rumah pengurus masjidnya terpampang
besar-besar gambar bola dunia yang dilingkari tali. Logo NU. Lantas, mengapa
sesama NU kok berbeda, demikian pikirnya…
Bersambung ke: Mengapa Harus Berbeda (2)