Blog EntryMeneropong Gajah....Apr 16, '08 11:15 AM
for everyone

Dm                                                 Am
Kuman yang diseberang lautan    jelas kelihatan
Dm                                                 Am
Sedang gajah dipelupuk mata      tiada kelihatan
Em               Am
Ah, keterlaluan

                                                      © Rhoma Irama

 

Di sebuah acara RW di sebuah tempat di sekitar kecamatan UB, Bandung.

Ketua Panitia membuka sambutannya dengan mengucap salam kepada hadirin:

“Assalaamu ‘alaykum wa rahmatullaahi TA’AALAA wa barakaatuh.

Hadirin sekalian …. bla-bla-bla….”

Sambutan berakhir, dan beliau pun menutup pidatonya dengan “Wa ssalaamu ‘alaykum wa rahmatullaahi TA’AALAA wa barakaatuh….”

Rupanya, seorang tokoh masyarakat yang kebetulan harus memberikan sambutan berikutnya merasa “gerah” dengan ucapan salam tsb. Maka pada saat memberikan sambutan, sang tokoh ini memulai sambutannya dengan:

“Assalaamu ‘alaykum wa rahmatullaahi TIDAK PAKAI TA’AALAA KARENA ITU BID’AH wa barakaatuh….” Dst.. dst.. dst…

***

Saya tidak tahu apa kesimpulan Anda tentang cerita di atas. Namun, semua teman yang saya ceritai hal itu,  langsung tertawa ngakak dan kebanyakan bertanya, “Jadi, yang versi kedua itu tidak bid’ah, ya????”

Dalam bahasa filsafat, kelakuan di atas diistilahkan dengan contradictio in terminis, kontradiksi yang terdapat pada pernyataan itu sendiri. Dan hal ini sering dilakukan oleh orang yang terlalu bersemangat menyerang pendapat orang lain, hingga kadang lupa dengan kelemahan pendapat sendiri. Ibarat kesebelasan sepak bola yang menerapkan strategi 1-1-8 bahkan 0-1-9 atau 0-0-10.

Memang kenyataannya demikian. Betapa sering kita ini sibuk menyalahkan orang lain sambil kita lupa dalam menyalahkan tersebut kita melanggar rambu-rambu yang membuat kita jadi “lebih bersalah” daripada orang yang kita salahkan.

Kita sibuk “mendiskusikan” poligami Aa Gym, sambil kita lupa, bahwa poligami sendiri bukan sebuah dosa (minimal secara fikih), namun jelas kelakuan kita “mengganyang” berita-berita tentang Aa dan istri-istrinya itu adalah “GHIBAH” yang jelas sangat dilarang dan merupakan dosa besar.

Anehnya, kita selalu tertawa mendengar cerita tentang orang shalat yang kentut, kemudian temannya berkomentar, “He… shalat kok kentut, batal, lu…!”, dan kemudian orang ketiga menimpali, “EH.. kamu juga batal, tauk… ngomong pas shalat…”.

Dan menganggap tokoh-tokoh dalam cerita itu sebagai orang-orang tolol.

Maka, mungkin memang sudah seharusnya kita menganggap diri kita tolol.

***

Btw, di atas dikutip lagu Rhoma Irama.

Saya jadi ingat sebuah anekdot tentang Rhoma Irama yang konon tersadarkan dan masuk ke Jamaah Hizbut Tahrir Indonesia.

Begitu selesai menjalani bai’at, rupanya jiwa seni Bang Rhoma ini tidak hilang begitu saja. Dan dia ingin menyebarkan salah satu ajaran Hizbut Tahrir dengan jiwa seninya.

Maka Rhoma Irama pun mendendangkan lagu barunya….

“Dung cek cek dung cek… Mengapa eh mengapa, bernyanyi itu haram… tereroret…..???????”


14 CommentsChronological   Reverse   Threaded
seblat wrote on Apr 16
“Dung cek cek dung cek… Mengapa eh mengapa, bernyanyi itu haram… tereroret…..???????”
hahahaha..

jadi inget, beberapa waktu lalu ada "perkelahian" ditengah2 waktu salat jumat. gara-gara perbedaan jumlah adzan.. ada yang sekali, yang lainnya 2 kali.. akhirnya. rebutan mikropon dan.. "blak..bluk..plak..duezz!!"
ejatmiko wrote on Apr 17
Wah!, baru aja aku (yang lagi nyetrika di ruang tengah) teriak ke Rangga yang sedang di kamar supaya nggak teriak:D
spinsquad wrote on Apr 18
gajah dipelupuk mata jelas memang tidak akan kelihatan...:)
palwono wrote on Apr 18
saya juga ngakak...
membayangkan betapa besarnya mata tokoh masyarakat tsb yang kelilipan gajah....:)
alifayogananda wrote on Apr 19
palwono said
betapa besarnya mata tokoh masyarakat tsb yang kelilipan gajah
apalagi gajahnya gajah hamil sakit beri-beri habis disengat tawon dan digebukin orang sepasar karena ketangkep basah "ngutil" cemilan di supermarket... :-p
alifayogananda wrote on Apr 19
teriak ke Rangga yang sedang di kamar supaya nggak teriak
sama saja dengan kebiasaan pas ngingetin orang lain agar sabar:
"YANG SABAR DONG!!!!!!!" (dengan nada menyentak mata melotot...)
atau
tulisan "DILARANG CORAT-CORET DI SINI" yang banyak terdapat di tembok-tembok...

Tapi yang satu ini juga beneran terjadi:
Di jalan di depan Kantor Telkom Pusat Japati (seberang GASIBU) terdapat tanda larangan parkir yang amat menyolok dan berderet-deret, tapi di sana dapat ditemukan juga BERDERET-DERET mobil milik tamu dan karyawan Telkom parkir di jalan tsb.

Gejala apa, ya?
palwono wrote on Apr 19
DILARANG CORAT-CORET DI SINI" yang banyak terdapat di tembok-tembok...
Lha kalau di toilet umum, selalu ada tulisan JAGALAH KEBERSIHAN
Teteeppppp aja pada buang kotoran (pipis dan pup) di situ....
alifayogananda wrote on Apr 19
palwono said
buang kotoran (pipis dan pup) di situ....
buang kotoran dan pipis itu dalam rangka menjaga kebersihan perut dan ginjal ,,, :-D
palwono wrote on Apr 19
dalam rangka menjaga kebersihan perut dan ginjal ,,, :-D
iya ya,
berarti yang harus ditempelin pengumuman JAGALAH KEBERSIHAN adalah perut dan ginjalnya dong.....
alifayogananda wrote on Apr 21
palwono said

berarti yang harus ditempelin pengumuman JAGALAH KEBERSIHAN adalah perut dan ginjalnya dong.....
hahahaha....
kebayang, jualan stiker untuk ditempel di perut...?????
Comment deleted at the request of the author.
iwanaries wrote on Apr 23, edited on Apr 23
hahahaha....
kebayang, jualan stiker untuk ditempel di perut...?????
penting ngga sih? ;))
titikminarti wrote on May 23
^-^,..cerita yang mencerahkan,..terima kasih...
alifayogananda wrote on May 24
Terima kasih kembali, mBak Titik...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help