Dm Am
Kuman yang diseberang lautan jelas kelihatan
Dm Am
Sedang gajah dipelupuk mata tiada kelihatan
Em Am
Ah, keterlaluan
© Rhoma Irama
Di sebuah acara RW di sebuah tempat di sekitar kecamatan UB, Bandung.
Ketua Panitia membuka sambutannya dengan mengucap salam kepada hadirin:
“Assalaamu ‘alaykum wa rahmatullaahi TA’AALAA wa barakaatuh.
Hadirin sekalian …. bla-bla-bla….”
Sambutan berakhir, dan beliau pun menutup pidatonya dengan “Wa ssalaamu ‘alaykum wa rahmatullaahi TA’AALAA wa barakaatuh….”
Rupanya, seorang tokoh masyarakat yang kebetulan harus memberikan sambutan berikutnya merasa “gerah” dengan ucapan salam tsb. Maka pada saat memberikan sambutan, sang tokoh ini memulai sambutannya dengan:
“Assalaamu ‘alaykum wa rahmatullaahi TIDAK PAKAI TA’AALAA KARENA ITU BID’AH wa barakaatuh….” Dst.. dst.. dst…
***
Saya tidak tahu apa kesimpulan Anda tentang cerita di atas. Namun, semua teman yang saya ceritai hal itu, langsung tertawa ngakak dan kebanyakan bertanya, “Jadi, yang versi kedua itu tidak bid’ah, ya????”
Dalam bahasa filsafat, kelakuan di atas diistilahkan dengan contradictio in terminis, kontradiksi yang terdapat pada pernyataan itu sendiri. Dan hal ini sering dilakukan oleh orang yang terlalu bersemangat menyerang pendapat orang lain, hingga kadang lupa dengan kelemahan pendapat sendiri. Ibarat kesebelasan sepak bola yang menerapkan strategi 1-1-8 bahkan 0-1-9 atau 0-0-10.
Memang kenyataannya demikian. Betapa sering kita ini sibuk menyalahkan orang lain sambil kita lupa dalam menyalahkan tersebut kita melanggar rambu-rambu yang membuat kita jadi “lebih bersalah” daripada orang yang kita salahkan.
Kita sibuk “mendiskusikan” poligami Aa Gym, sambil kita lupa, bahwa poligami sendiri bukan sebuah dosa (minimal secara fikih), namun jelas kelakuan kita “mengganyang” berita-berita tentang Aa dan istri-istrinya itu adalah “GHIBAH” yang jelas sangat dilarang dan merupakan dosa besar.
Anehnya, kita selalu tertawa mendengar cerita tentang orang shalat yang kentut, kemudian temannya berkomentar, “He… shalat kok kentut, batal, lu…!”, dan kemudian orang ketiga menimpali, “EH.. kamu juga batal, tauk… ngomong pas shalat…”.
Dan menganggap tokoh-tokoh dalam cerita itu sebagai orang-orang tolol.
Maka, mungkin memang sudah seharusnya kita menganggap diri kita tolol.
***
Btw, di atas dikutip lagu Rhoma Irama.
Saya jadi ingat sebuah anekdot tentang Rhoma Irama yang konon tersadarkan dan masuk ke Jamaah Hizbut Tahrir Indonesia.
Begitu selesai menjalani bai’at, rupanya jiwa seni Bang Rhoma ini tidak hilang begitu saja. Dan dia ingin menyebarkan salah satu ajaran Hizbut Tahrir dengan jiwa seninya.
Maka Rhoma Irama pun mendendangkan lagu barunya….
“Dung cek cek dung cek… Mengapa eh mengapa, bernyanyi itu haram… tereroret…..???????”