Baca postingan mas Ari, tentang " Pemaksaan Salam", saya ingat sobat saya yang suka iseng.
Beberapa kali dia mendatangi teman-teman yang sedang berkumpul, dan mengucapkan salam: " Hai, semoga keselamatan dan rahmat serta berkat Allah selalu atas kalian"...
Ternyata, tidak ada satu orang pun yang menjawab. Kalau ada saya, biasanya cuma saya yang jawab, " Semoga keselamatan rahmat dan berkat Allah untukmu juga", atau " Waalaykumussalam wa rahmatullaahi wa barakaatuh."
Lantas dia protes ke teman-teman yang nggak mau jawab, "Kalian
ini gimana sih? Kalau ada orang mengucap salam, kan wajib menjawab,
toh? Kalau gak jawab salam itu hukumnya dosa, kan?"
Ada yang menjawab, "Habis kamu ngucapin salamnya bahasa Indonesia, sih, jadi kami nggak sadar bahwa itu salam.."
Kalau saya punya keisengan yang lain. Kadang saya datang ke suatu tempat, dan bilang, ".... KUM", "...ALAYKUM", atau "SALAYKUM"
Ternyata, kebanyakan orang akan menjawabnya, "Wa'alaykum salaam.." Dan
biasanya cuma sobat saya tadi yang menjawabnya sama isengnya, "LAAMM"
Jadi, barangkali, orang melihat salam hanya karena diucapkan dalam
bahasa Arab, mungkin tanpa meresapi artinya. Kalau bukan bahasa Arab,
ya nggak perlu dijawab. Sedangkan asal berbau-bau Arab sedikit, tetap
dijawab juga sebagai salam.
Saya jadi bertanya-tanya, emangnya kalau dalam bahasa selain Arab, salam tidak wajib dijawab?
 | himma wrote on Aug 4, '06 hehehehehe ngapain juga siih pake ganti bahasa?..iseng ajah....pake bhs arab ajah udah pada mahfum kan? |
 | himma wrote on Aug 4, '06 tambah iseng lagi yg kuuum..... |
 | Teman saya itu punya alasan yang sok "filosofis", "Pengen tahu sejauh mana pemahaman orang-orang terhadap makna salam.." Maklum, dia itu psikolog. Hobinya, menilai orang lain, hehehe....
Kalau saya, alasannya prinsip ekonomi: "berkorban sesedikit-dikitnya untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya..". (meskipun memanfaatkan "kelengahan" orang lain, sebagaimana kelakuan sebagian besar ekonom). Cuma ngucap "KUM", (satu suku kata, maks. 3), dijawab doa sebagaimana mengucap salam lengkap (19 suku kata), hehehe.... |
 | himma wrote on Aug 4, '06 hehehehhehehehe....padahal disini tuh salam muraah banget,pasti kalo ada yg salam jawab sampe penuh... |
 | uda biasa seh pakai bahasa arab....;-) |
 | Salam itu adalah do'a, yakni mendo'akan keselamatan dan rahmat kepada yang diberi salam. Karena masuk dalam muamalat yang sudah ditetapkan oleh nabi, maka kita wajib mengikuti beliau, dan tidak bermain-main dengan salam (do'a). Wallahu a'lam |
 | salam dlm bhs Arab wajib dijawab salam dlm bhs Indonesia juga wajib dijawab dong, kalo nggak, sombong namanya :p |
 | kalau mengucapkan selamt pagi ya dijawab selamat pagi, tetapi kalau niatnya memberi salam (Islam), maka ucapkan salam sesuai ajaran nabi, bisa assalamualaikum, bisa assalamualaikum warahmatullah, bisa assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kalo main-main, jadi ingat kisah Yahudi yang maen-maenin salam dengan mengucapkan assamualaikum (racun/binasalah bagimu) dan Ummul Mukminin marah, namun Nabi memberi contoh jawabannya Waalaikum. |
 | saya pikir.. poin yg ingin disampaikan dlm jurnal ini : kita harusnya TAHU makna kalimat yg kita ucapkan.. makanya Mas Ali kasih salam pake "kum" doang itu mau ngetes, temen2nya tau nggak sih artinya, atau "yg penting arab" langsung dijawab tanpa mikir.. dan rupanya, kebanyakan temennya masuk ke "yg penting arab" ini.
*kok saya malah jadi jubir-nya Mas Ali sih? |
 | Imron bin Husain berkata, “Ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi seraya mengucapkan Assalamu ‘alaikum. Maka nabi menjawabnya dan orang itu kemudian duduk. Nabi berkata, “Dia mendapat sepuluh pahala.” Kemudian datang orang yang lain mengucapkan Assalamu ‘alaikum warohmatulloh. Maka Nabi menjawabnya dan berkata, “Dua puluh pahala baginya.” Kemudian ada yang datang lagi seraya mengucapkan Assalamu ’alaikum warohmatullohi wa barokatuh. Nabipun menjawabnya dan berkata, “Dia mendapat tiga puluh pahala.” (Shohih. HR. Abu dawud, Tirmidzi dan Ahmad) silakan dilayar laman web ini khusus masalah salam: http://muslim.or.id/?p=370 |
 | Wallahu a'lam dengan cerita tsb. Kalau saya berpendapat, jika ada yang aman, mengapa mencari yang beresiko? |
 | himma wrote on Aug 4, '06 aduh, jangan-jangan nanti ada inflasi salam... :-(  kekekekeke....iseng ajah...maksudnya membudaya..... |
 | himma wrote on Aug 4, '06 , bahwa kalau yang di-salami cuma satu orang, bilangnya cukup "Assalaamu'alayk..", begitu. Sayang, saya tidak pernah mempelajari soal sanad dari cerita tsb. Bisa tolong tanyain ke yang lebih kompeten?  disini org ngucapnya juga asalamu'alaik.....kalo yg pake kum org indonesia(saya dan klg )...hehehe trus njawabnya tuh wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokaatuh. |
 | kalau yang di-salami cuma satu orang, bilangnya cukup "Assalaamu'alayk..", begitu. ========= alaykum itu buat plural alayka itu buat singular-masculine alayki itu buat singular-feminine
halah, kok jadi pelajaran bahasa:D |
 | mbak Yuni..saya brsn kirim email loh.. |
 | Hahaha...adab salam ya wajib dijawab, dalam bahasa apapun juga. |
 | salam dijawab dong.... kalo disapa halo, ya jawab halo, jangan aloha... (komentar nggak nyambung) hehehe |
 | masarcon wrote on Aug 4, '06, edited on Aug 4, '06 memangnya kasus yahudi yang memprovokasi tadi plus kasus nabi yang dilarang mendoakan surga bagi pamannya (abu thalib) menjadi kewajiban dan batasan bagi seluruh umat supaya tidak membalas salam yang berbahasa lain dengan salam berbahasa arab, dan memnjadi ketentuan bagi seluruh umat islam untuk tidak mendoakan umat yang beragama lain ?.
lalu apa maknanya mendoakan keselamatan bagi seluruh umat manusia dan makhluk-Nya ? |
 | wikan wrote on Aug 4, '06, edited on Aug 4, '06 aku pernah baca transkripsi bahasa betawi pada pengucapan salam. tulisannya begini ... "Salam lekom ..." terus dijawabnya ... "lekom salam" :) |
 | buat Bunda dan mbak Yuni: kalau untuk jawaban salam, dhomir-nya dibedakan juga nggak? mis.: wa `alaykassalaam, atau wa `alaykumassalaam... dsb... (bener gak istilahnya dhomir untuk kata ganti personal?) |
 |  lalu apa maknanya mendoakan keselamatan bagi seluruh umat manusia dan makhluk-Nya ?  lha, itu juga yang jadi pertanyaan saya. Islam itu rahmatan lil-alamin atau cuma rahmatan lil-muslimin, sih? tapi, kalau dari banyak hadits ttg kafir dzimmi, sepertinya memang tidak boleh tuh ngucapin "salam resmi islam" pada non muslim. jangankan ngucapin salam, ketemu pun kalau bisa disudutkan jauh ke pinggir jalan. (lihat di situsnya kang Bin Imam) cuma kok rasanya jadi kontradiktif dg perilaku Rasulullah saw. pribadi, ya? bahkan seorang nenek tua ompong peyot yahudi yang kerjaannya meludahi Nabi saw. pun Beliau jenguk pada saat si nenek sakit, dan didoakan agar sembuh. Ini kan esensinya bahkan lebih dalam dari pada sekadar memberikan salam. |
 | Saya bicara dengan teman saya yang psikolog itu soal diskusi ini. Saya ungkapkan, bahwa orang-orang di daerah yang "native" Arab, biasa mengganti dhomir salam sesuai dengan audiensnya. Sementara, di Indonesia ini, hal tersebut sering kali diperdebatkan, bahkan sampai mem-bid'ah-bid'ahkan segala.
Komentarnya, "Ya wajar saja. Di sana, orang mengucapkan salam itu dengan bahasa sehari-hari, menjadi bagian dari percakapan. Di sini, orang mengucapkan salam itu sebagai MANTRA, tidak perlu paham artinya, pokoknya bunyinya harus begini-begitu. Salah baca dikit malah bisa mencelakakan diri sendiri..."
|
 | ah... ali mulai bid'ah... D |
 | ah, dari dulu, kok... sering ber-"bid'ah-bid'ah" ria... dari ushalli, qunut, shalawatan, tahlilan, dsb... hehehe... soalnya kan memang NU yang katanya "Full Bid'ah Contact"... |
| |