Sebuah cerita yang saya ambil dari bukunya KH. Mudjab Mahalli.
Konon, ada dua orang bersahabat, Saman dan Samin, yang nyantri di sebuah pesantren. Namun selesai mesantren, kedua orang ini mendapatkan jalan hidup yang berbeda. Saman menjadi petani kecil di kampung, dan Samin menjadi pedagang yang sukses di kota.
Lima tahun mengalumni, suatu ketika Saman mendapati bahwa singkongnya panenannya jauh lebih besar-besar dan banyak daripada biasanya. Sambil bersyukur, tiba-tiba Saman teringat pada masa-masa dia di pesantren. Saman berkata pada istrinya.
"Dik, rasanya sudah lama aku tidak sowan sama mBah Kiai. Aku yakin panen kita yang bagus-bagus kali ini tidak luput dari berkah mBah Kiai tempatku ngaji dulu. Aku jadi pengen sowan ke beliau, sambil menghadiahkan sebagian singkong panenan kita."
Istrinya setuju, dan Saman pun pergi ke pesantrennya dulu.
Sampai di sana, setelah berbasa-basi dengan mBah Kiai dan saling melepas kangen, Saman berkata, "mBah, berkat doa restu mBah, kali ini panenan singkong saya besar-besar dan banyak. Sebagai ucapan terima kasih atas semua bimbingan mBah, saya sampaikan sebagian singkong ini sebagai hadiah."
mBah Kiai terharu oleh sikap Saman yang penuh terima kasih ini.
Maka ketika Saman berpamitan, buru-buru mBah Kiai menemui mBah Nyai. "Bune, kita punya apa di belakang? Ini Saman mau pulang, nggak enak kalau dia pulang nggak bawa-bawa cangkingan."
"Wah, lagi nggak ada apa-apa, Pak. Cuma ada kambing kurus itu, di belakang. Yang satunya kan sudah kita jual kemarin untuk nambal atap pesantren."
"Ya sudahlah. Berikan saja kambing itu ke dia."
Kata mBah Kiai, "Man, bawa saja kambing ini ke rumah. Anggap saja oleh-oleh buat istrimu."
Dengan penuh terima kasih, Saman pulang. Di tengah jalan, dia bertemu dengan Samin yang baru pulang dari perjalanan bisnis. Melihat Saman, yang sudah lima tahunan juga tidak ditemuinya, segera mereka saling bertegur sapa. Mendengar Saman baru pulang dari mBah Kiai dan diberi hadiah kambing, kontan saja si Samin iri.
"Kalau Saman yang cuma bawa singkong saja diberi kambing kurus, kalau aku bawa tembakau, beras, dan gula, mungkin akan diberi anak sapi, sekurang-kurangnya kambing yang jauh lebih gemuk dari yang tadi..."
Maka keesokan harinya, Samin bergegas sowan ke mBah Kiai, sambil membawa 5 kilo tembakau, 5 kilo gula, dan 5 kilo beras.
"mBah, sekalian sebagai obat kangen, ini sebagai ucapan terima kasih saya atas bimbingan mBah Kiai selama ini."
mBah Kiai pun terharu (lagi..) atas kebaikan yang diperlihatkan anak-anak muridnya itu. Maka ketika Samin pamit, beliau pun menemui istrinya lagi.
"Bune, itu Samin mau pulang. Ada apa yang bisa kita berikan ke dia sebagai oleh-oleh? Kasihan kalau sampai pulang dengan tangan kosong.."
"Wah, Pak. Sudah nggak ada apa-apa. Cuma tinggal sekeresek singkong sisa dari Saman kemarin, soalnya yang lain sudah habis direbus buat orang-orang yang ronda tadi malam."
"Ya sudah, itu sajalah."
Tak perlu diceritakan dialog pamitan mereka. Yang jelas, di jalan, Samin pulang sambil nggerundel, "Lha wong bawa macem-macem kok cuma dikasih sekresek singkong...".
Lantas kata Sahibul Hikayat, dari kisah itulah terkenal pameo di kalangan (sebagian) pesantren di Jawa, "Yen ora ikhlas ganjarane telo...". Kalau tidak ikhlas, pahalanya (cuma) singkong...
Wallaahu a'lam.