Mungkin Perempuan Memang Tidak Cukup Berharga

Dibandingkan dengan Sapi Betina

Salam,

Mohon para pembela HAW (Hak Asasi Wanita) jangan sewot dulu. Menuntut permintaan maaf, atau penggantian judul, dsb.

Ini cuma pengalaman saya hidup di Negeri BBM (ikutan Taufik Savalas), yang saya bandingkan dengan pengalaman saya waktu masih kecil, hidup di kampuang nan udik jauh di mato.

Waktu saya tinggal di kampung, keluarga besar saya adalah petani. Hampir tidak ada keluarga petani yang tidak memiliki sapi (jantan maupun betina) di rumah mereka.

Sangat bagus, menurut saya, efek dari kepemilikan sapi tsb.

Mereka (petani) mendapatkan pupuk yang murah (tidak terpengaruh HET Pupuk Buatan yang dikendalikan para kapitalis serakah), mendapatkan pengganti (tepatnya: pendahulu) traktor, yang tidak peduli dengan kenaikan BBM (sebab sapi tidak minum solar atau pun bensin), juga mendapatkan sumber gizi (susu dan dagig) yang jelas tidak tersentuk oleh mekanisme pasar kapitalis yang dengan gembira menunjang kenaikan inflasi negara.

Seringkali, keterikatan petani terhadap sapi, jauh lebih indah daripada keterikatan seorang majikan dengan pembantunya, apalagi keterikatan seorang pemilik pabrik dengan buruh-buruhnya.

Sapi, bagi petani (jaman dulu), adalah bagian tak terpisahkan dari keluarga mereka. Seekor sapi yang sakit, dirawat dengan penuh kasih sayang. Dicarikan obat, diberi cuti hingga cukup kuat untuk bekerja.

Bandingkan dengan para buruh kita, yang bila sakit, belum tentu dapat asuransi kesehatan, malah kadang harus merelakan upah hariannya dipotong karena (terpaksa) tidak masuk kerja.

Sapi betina, bila ketahuan sedang hamil dan menyusui, tidak diijinkan bekerja oleh petani (majikannya). Bayangkan, berapa lama "cuti hamil dan menyusui" yang diperoleh seekor sapi betina? Bahkan pada saat tidak bekerja itu, majikannya pun tetap memberinya makan, minum, dan tetap diberikan hak-haknya untuk bisa bertahan hidup.

Bagaimana dengan "pekerja" perempuan di Negeri BBM? Boro-boro dipenuhi haknya. Sekadar alasan cuti hamil dan menyusui yang "sedikit kelamaan" pun dapat menjadi alasan pemberhentian kontrak/hubungan kerja. Cuti yang diberikan pun cuma beberapa hari sampai beberapa minggu, tergantung seberapa tinggi kedudukan si pekerja perempuan di hirarki birokrasi perusahaan. Bagi komisaris mungkin dapat setahun. Bagi buruh kelas "kambing", mungkin seminggu pun sudah untung.

Jadi, mungkin judul di atas cukup layak dipertahankan, kan?


17 CommentsChronological   Reverse   Threaded
maimon wrote on Apr 3, '06
bagaimana memberdayakan wanita, supaya tdk jadi sapi perahan kapitalis....
Mungkin ini kerja besar ya?
alifayogananda wrote on Apr 3, '06
maimon said
Mungkin ini kerja besar ya?
Betul...
Dan rasanya bukan hanya kaum ibu yang perlu bergerak, kan?
iwanaries wrote on Apr 5, '06
wah, jangan kejauhan ke komisaris yang dapet cuti setahun! yang gampang aja dulu, gimana caranya biar pekerja kelas "kambing" bisa naik ke kelas "sapi" biar haknya bisa sejajar dengan sapi yang diceritain tadi.
btw, apa komentar Mentekek-nya?
alifayogananda wrote on Apr 5, '06

btw, apa komentar Mentekek-nya?
Komentar Menteri Tekek:
"Semangat kerja para buruh itu wajib diteladani. Bayangkan, baru kemarin lusa melahirkan, hari ini sudah sibuk lagi diantara deru mesin-mesin pabrik...!"
:-(
bundakirana wrote on Apr 5, '06
welkambek di MP Mas Ali... :D
emang kasian kaum prp pekerja di Indonesia ya... :(
ada temenku cerita, kantornya lebih seneng mempekerjakan pegawai prp, soalnya gak perlu memberikan jaminan asuransi kesehatan (kan aturannya, asuransi itu hanya untuk kepala keluarga/laki2).
alifayogananda wrote on Apr 6, '06
Thanks Uni.
Tapi itu, loh... nulisnya meni welkambek...
jadi inget "mbak-mbak" yang diperlakukan seperti "mbek-mbek" (lebih sadis, malah..). ... :-(
Saya juga suka bingung, sudah ada Mentri Urusan Wanita, kok masih kayak gitu terus...

Btw, kok pasang foto Kirana?
fahmifarhan wrote on Apr 18, '06
yah... memang nasib perempuan seperti begitu... di amerika sekalipun, perempuan masih jadi warga kelas dua
alifayogananda wrote on Apr 19, '06
yah... memang nasib perempuan seperti begitu... di amerika sekalipun, perempuan masih jadi warga kelas dua
Jadi ingat tulisan yang baru kemarin kubaca di Jurnal Paramadina.
Tulisan Nasaruddin Umar, Redaktur Pelaksana Jurnal Paramadina, menulis beberapa fakta menarik tentang masalah gender:

  1. Beberapa penulis Barat menyatakan bahwa agama-agama samawi (Yahudi, Kristen, Islam) dianggap sebagai perontok faham mother-god dan menggantikannya menjadi faham father-god, yang berimbas pada "menomor-dua"-nya perempuan dalam kehidupan manusia
  2. Ide meletakkan perempuan sebagai sub-ordinat adalah nuansa yang amat kental ke-Yahudi-annya (lihat Perjanjian Lama dan Baru).
  3. Nabi Muhammad saw. berjuang keras mengangkat derajat perempuan pada masa hidup beliau, namun usaha ini harus kembali kandas justru ditangan para pengikut Beliau saw. pada masa berikutnya yang masih amat memuja faham tribalisme Arab
  4. Bahwa mayoritas ahli tafsir Quran pada masa terdahulu memiliki bias gender yang amat jelas pada penafsiran-penafsiran mereka, dengan sedikit perkecualian misalnya Ar-Razi.

Sambil tersenyum-senyum sendiri, aku sempat kepikiran, gimana kalau bikin pernyataan bahwa "Faham Patriarchis" itu sebenarnya Israiliyat, sebab sumber utamanya justru lebih ada pada kisah-kisah Bani Israil dari pada kisah kehidupan Rasul saw. sendiri...
Pasti banyak yang "kebakaran jenggot".... :-p
fahmifarhan wrote on Apr 20, '06
sebenarnya kan di kita (islam) sudah diangkat tentang tema seperti itu dimotori oleh Begum Taslima Nasrin pada 90-an untuk kembali menyusun ulang penafsiran quran dan hadis. hasilnya dia dikejar-kejar dan diancam hukuman mati di Bangladesh.
yang pasti Indonesia cukup bagus dengan mengujinya melalui presiden perempuan.
masarcon wrote on May 26, '06
ada temenku cerita, kantornya lebih seneng mempekerjakan pegawai prp, soalnya gak perlu memberikan jaminan asuransi kesehatan (kan aturannya, asuransi itu hanya untuk kepala keluarga/laki2).
kantor yang aneh, di tempat kerja saya, meskipun pabrik, tetapi lelaki maupun wanita sama sama mendapatkan asuransi yang sama nilainya. hanya saja, kalau dua duanya pekerja di kantor kami, kudu pakai salah satu untuk klaim (kecuali pakai asuransi sendiri yang beda dengan yg dipakai kantor, dan bisa pakai slip fotocopian buat claim insurance). malah bisa double claim. lumayan kan ...
masarcon wrote on May 26, '06
Sambil tersenyum-senyum sendiri, aku sempat kepikiran, gimana kalau bikin pernyataan bahwa "Faham Patriarchis" itu sebenarnya Israiliyat, sebab sumber utamanya justru lebih ada pada kisah-kisah Bani Israil dari pada kisah kehidupan Rasul saw. sendiri...
Pasti banyak yang "kebakaran jenggot".... :-p
saya kira kok pendapat mas alifia kurang tepat. rata rata agama samawi memang rada patriarkis. contoh :

http://www.skepticsannotatedbible.com/quran/women/long.html

Women in the Quran
Women who are guilty of lewdness ... confine them to the houses until death take them.--4:15

2: The Cow

4. Women have rights that are similar to men, but men are "a degree above them." 2:228

5. A woman is worth one-half a man. 2:282
4: The Women

6. Marry of the women two, or three, or four. 4:3

7. Males are to inherit twice that of females. 4:11

8. Lewd women are to be confined to their houses until death. 4:15

9. You may not forcibly inherit women, unless they flagrantly lewd. 4:19

10. Instructions for exchanging wives 4:20

11. You can't have married women, unless they are captives. 4:24

12. Men are in charge of women, because Allah made men to be better than women. Refuse to have sex with women from whom you fear rebellion, and scourge them. 4:34

14. Women are feeble and are unable to devise a plan. 4:98

15. They invoke in his (Allah's) stead only females. 4:117

16. A man cannot treat his wives fairly. 4:129

17. "Unto the male is the equivalent share of two females." 4:176
5: The Table Spread

11: Hud

23: The Believers

22. You don't have to be modest around your wives or your slave girls "that your right hand possess." 23:6
24: Light

23. If you accuse an honorable women of adultery, be sure to bring four witness. Otherwise you will receive 80 lashes. 24:4

24. A husband can accuse his wife of adultery with only one witness. 24:6

33: The Clans

32. If men must speak to Muhammad's wives they must speak from behind a curtain. And no one must ever marry one of his wives. 33:53

35. Those who "did wrong" will go to hell, and their wives will go to hell with them (no matter how they behaved). 37:22-23

36. But the single-minded slaves of Allah will enjoy a Garden filled with lovely-eyed virgins. 37:40-48
38: Sad

37. Female companions await those who enter the Gardens of Eden on the Day of Reckoning. 38:52
44: Smoke

38. Allah will reward faithful Muslims after they die with "fair ones with wide, lovely eyes." 44:54
52: The Mount

39. Allah will reward those in the Garden with beautiful wives with wide, lovely eyes. 52:20
53: The Star

40. Those who disbelieve in the afterlife give female names to angels. 53:27
55: The Beneficent

41. Allah will give those in the Garden women of modest gaze whom neither man nor jinn have touched before them. 55:56

42. Allah will reward believing men with "fair ones" (beautiful women) in heaven. 55:71-72
56: The Event

43. Those in the Garden will be attended by immortal youths with wide, lovely eyes. 56:17-23

44. Allah made virgins to be lovers and friends to those on his right hand. 56:36-37
64: Mutual Disillusion

45. Your wives and children are your enemies. They are to you only a temptation. 64:14-15
65: Divorce

46. Instructions for divorcing your wives. 65:1-6
66: Banning

47. Muhammad's wives need to be careful. If they criticize their husband, Allah will replace them with better ones. 66:5

48. The wives of 66:Noah and 66:Lot (who were both righteous) betrayed their husbands and are now in the Fire. 66:10
70: The Ascending Stairways

49. Doom is about to fall on all disbelievers. Only worshippers (Muslims) and those who preserve their chastity (except with their wives and slave girls) will be spared from "the fires of hell" that are "eagar to roast." 70:1-30

50. You don't have to be chaste around your wives or your slave girls. 70:29-30
masarcon wrote on May 26, '06
bagaimana dengan ini, mas ?

http://en.wikipedia.org/wiki/Misyar_marriage

The difference between a Misyar marriage and a normal Nikah is:

1. The couple do not live in one household, but visit each other.
2. The husband is not financially responsible for supporting his wife .
3. It is intended to be a temporary arrangement.


Misyar Marriage in practice

The practice of Misyar marriage is often different from the original intent for creating this institution. Wealthy Kuwaiti and Saudi men sometimes enter into a Misyar marriage while on vacation. This allows them to have sexual relations with another woman without committing the sin of zina.

They travel to poor countries, such as Egypt or Syria, and meet middlemen who arrange a marriage for them. Some men arrange Misyar marriages online. The middleman brings some girls and they pick the one that they like most. These men pay the girl's family some money.

Islam and Misyar Marriage

Misyar marriage has been practiced in Saudi Arabia and Egypt for many years. It was legalized in Saudi Arabia by a fatwa issued by Sheikh Abdul 'Azeez ibn Abdullaah ibn Baaz and was officially legalized in Egypt by the Egyptian Sunni Imam Sheikh Muhammad Sayid Tantawy in 1999. The Mufti of Egypt is a staunch defender of Misyar marriage.
alifayogananda wrote on May 30, '06
2. The husband is not financially responsible for supporting his wife .
3. It is intended to be a temporary arrangement.
1. Apa bedanya dengan Mut'ah? Jangan-jangan cuma beda istilah?
Maaf, baru dengar nih...
2. Ttg patriarchisme Islam, sepanjang yang saya pahami dari sejarah Nabi SAW, perilaku beliau amat jauh dari sikap patriarchis (.. orang lain mungkin punya persepsi beda..)
Quran sendiri, kalau ditafsir a-la Prof. Affif Muhammad, KH. Yusuf Muhammad dan KH. Ahmad Mudjab M. rasanya tidak sepatriarchis yang ditafsir oleh tafsir-tafsir klasik.
masarcon wrote on Jul 8, '06
kemarin belajar bahasa prancis, saya baru sadar kalo bahasa yg cenderung membeda bedakan pria dan wanita akan cenderung patriarkis. dan bahasa arab juga termasuk bahasa suka membeda bedakan wanita dan lelaki.
alifayogananda wrote on Jul 9, '06
hahaha... mas ari bisa aja.
btw, kenapa bahasa batak dan jawa yang tidak membeda-bedakan laki-laki dan perempuan (kecuali dalam panggilan dan istilah organ) kok patriarkis juga, ya?
masarcon wrote on Jul 9, '06
saya ndak bilang kalau bahasa yg ndak membeda bedakan perempuan dan pria akan bebas dari patriarkis. tapi tapi yg saya katakan, bahasa yg membeda beda kan pria dan perempuan akan lebih mudah jatuh ke pelukan patriarkhi.

bahasa china, jepun dan korea yang juga netral, juga aceh dan melayu juga jatuh ke patriarki juga kok. padahal orang melayu garisnya matrilineal. yahudi yg matrilineal juga jatuh ke patriarki. :p
alifayogananda wrote on Jul 16, '06
kesimpulannya,
patriarkis atau matriarkis tidak dipengaruhi oleh gaya bahasa, sbg kesimpulan dari beberapa kasus:
bahasa jawa netral--> budaya patriarkis
bahasa yahudi lebih feminin --> budaya patriarkis
bahasa minang netral --> budaya matrilineal
bahasa arab maskulin --> budaya patriarkis
ya, toh?
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help