Timur Lenk, penguasa Mongol di
Baghdad, mengundang Mullah Nasruddin ke istananya. Raja berkata,
"Mullah, kudengar engkau adalah orang terpandai di negeri ini. Jika
engkau benar-benar pandai, bisakah engkau mengajar keledai membaca?"
"Daulat Tuanku, berilah hamba waktu 3 bulan. Silahkan Tuan pilihkan kitab yang akan diajarkan dan keledai yang akan diajari."
Timur Lenk memberikan sebuah kitab tebal dan seekor keledai kepada Mullah.
Maka, sejak itu, setiap hari Mullah mengajari keledainya membaca.
Diletakkannya selembar jerami di setiap lembar kitab. Dibukanya lembar
demi lembar kitab itu di muka si keledai. Demikian terus, hingga acap
kali si keledai menghadapi kitab itu, dibukanya lembar demi lembar
kitab, dan dimakannya jerami yang ada.
Setelah 3 bulan, Mullah menghadap raja.
"Ayo tunjukkan hasil pengajaranmu," kata raja.
Mullah pun membawa keledainya ke depan raja. Diletakkannya kitab yang
biasa dia pakai memberi makan itu di depan muka si keledai.
Si keledai pun membuka lembar pertama kitab. Begitu tidak ditemukannya jemari, maka dia meringkik.
Nasruddin berkata, "Nah, Tuanku, lihat, dia mulai membaca.."
Si keledai membuka lembaran berikutnya. Setiap kali membuka dia
meringkik karena tidak ditemukannya jerami seperti biasanya. Dan begitu
lembaran kitab habis, dia pun meringkik lebih keras dan lebih lama
karena putus asa.
Mullah berkata, "Nah, kini dia menyampaikan kesimpulan dari apa yang sudah dia baca..."
***
Teman-teman, kita mungkin mentertawakan keledai itu. Namun sadarkah bahwa keledai itu mungkin gambaran diri kita?
Berkali-kali kita membaca kitab suci, namun yang keluar dari diri kita
bukanlah isi kitab suci itu, melainkan dorongan nafsu kita.
Dari luar, kita terlihat membaca kitab suci, namun yang kita teriakkan adalah kebutuhan-kebutuhan perut kita.
Kita terlihat membaca kitab suci, namun yang kita inginkan adalah
pujian orang atas diri kita, tartilnya bacaan kita, indahnya lagu yang
kita alunkan.
Kita terlihat membaca kitab suci, sambil kita harapkan pujian orang bahwa kitalah Ahlul-Quran, orang yang dekat dengan Al-Quran.
Kita membaca kitab suci, untuk kita teriakkan bila isinya sesuai dengan pendapat madzhab/golongan kita.
Kita membaca kitab suci, namun bila isinya berbeda dengan pendapat
madzhab/golongan kita, kita cari segala macam cara untuk
menakwilkannya, dan yang kita teriakkan adalah takwilnya yang sesuai
dengan pendapat mazhab/golongan kita.
Demikian pula, bila kita membaca sebuah buku. Kita membaca buku, kita
cari hanya yang sesuai dengan madzhab kita. Kita cari hanya
lembaran-lembaran yang memperkuat pendapat kita.
Bila kita baca sebuah buku yang tidak sesuai dengan mazhab kita, kritik
bertubi-tubi kita lancarkan, hingga kadang mengabaikan kaidah-kaidah
akhlaq dan/apalagi logika.
Maka tidak jarang, terbit buku-buku kritik atas buku lain, yang mengedepankan emosi, su'uzhan, dan ashabiyah..
Maka dalam hal ini, kita lebih layak ditertawakan daripada keledai Mullah Nasruddin.