Sultan Mahmud dan 7
Orang Buta
Sultan Mahmud, raja yang paling bijaksana,
mengundang 7 orang buta ke istananya. Dijamunya mereka sebagai tamu raja-raja,
dan dibawanya mereka berkeliling taman istana. Di taman, berdiri tegak gajah
sang raja, dan kepada ketujuh orang buta, dipersilahkan untuk meraba-raba, agar
mereka tahu, gajah itu seperti apa.
Orang pertama berkata, gajah
itu panjang dan lentur, seperti ular yang besar, katanya.
Orang kedua berkata, gajah
itu runcing seperti pisau, yang panjangnya sehasta.
Orang ketiga menyatakan
pendapatnya, gajah adalah benda yang lebar dan kasar, seperti papan tapi agak
membulat permukaannya.
Oh, tidak, kata orang keempat.
Gajah itu lembut dan luas, bagaikan kipas.
Orang kelima, menyahut
sambil tertawa.
Saudara-saudaraku, menurutku gajah
itu seperti batang pohon, tegak berdiri kokoh menancap ke tanah.
Kalian semua salah, kata orang
keenam. Bagiku, gajah adalah binatang yang kecil panjang, ujungnya seperti
cambuk.
Maka masing-masing orang pun
bertahan pada pendiriannya, dan saling menyalahkan pendapat orang lain.
Orang ketujuh, yang tidak
mendapat kesempatan meraba, mengusulkan agar mereka bersama-sama mendatangi
raja, untuk mendengarkan pendapatnya.
Maka raja pun tertawa, dan dengan
sabar diterangkan kepada mereka semua. Bahwa yang diraba oleh orang-orang buta
itu secara berturut-turut adalah hidung gajah yang disebut belalai, taring
gajah yang disebut gading, badan gajah yang besar, telinga gajah, kaki gajah,
dan ekornya.
Saudara-saudaraku, di jalan
kebenaran, kita semua adalah ketujuh orang buta itu.
Masing-masing dari kita hanya mampu
meraba sebagian dari kebenaran yang teramat luas. Dan masing-masing kita biasa
bersikeras dengan kebenaran yang dapat kita raba semampu kita.
Adakah dari kita yang mampu
bersikap bijak, mengajak yang lainnya untuk menemukan kebenaran langsung dari
sang Pemilik?
Sebab hanya dengan menemui sang
Pemilik-lah, kita dapat memahami keseluruhan kebenaran yang diperdebatkan itu.
Disadur secara amat bebas
dari Matsnawi-nya Rumi.