Blog EntryLaki-laki Pendosa dan BentengAug 12, '05 8:20 AM
for everyone

Laki-laki di Atas Benteng..!

Seorang laki-laki, terkurung dalam sebuah benteng yang tinggi. Dalam kesendiriannya, kesepian melanda jiwanya. Kebosanan, diambilnya satu bata penyusun benteng, dilemparkannya ke bawah.

Tatkala batu itu sampai di bawah, yang rupanya adalah sebuah sungai yang mengalir jernih, terdengarlah bunyi percikan air oleh si laki-laki. Bagi jiwa yang merana itu, bunyi percikan air menimbulkan hasrat dan kerinduan untuk menemukan air yang ada di bawahnya.

Maka satu persatu dicopotnya tembok benteng, satu per satu pula dilemparkanya ke bawah. Dan semakin didengarnya bunyi percikan air, semakin besar kerinduannya.

Hingga suatu hari, habislah sudah tembok benteng yang mengelilinginya. Dilihatnya kemilau dan gemericik air yang dirindukannya, yang seolah-olah memanggil-manggilnya.

Namun saat dia melihat dirinya, dilihatnya tubuhnya yang kumal, penuh berdebu dan kotor oleh bekas-bekas reruntuhan tembok.

Maka dia pun tergolek, malu akan keadaan dirinya, dan takut dia akan mengotori air sungai yang jernih kemilau itu.

Terdengarlah sebuah suara,

Wahai perinduku, jangan ragu untuk bertemu denganku.
Jangan malu dengan kotoran yang melekat di badanmu,
Sebab kotoran itu tak akan mampu mengurangi kejernihanku.
Justru jika kau tenggelamkan dirimu dalam diriku,
Niscaya kan sirna seluruh kotoran yang menodaimu..

Kita semua bagaikan laki-laki dalam benteng itu.
Benteng egoisme menyelimuti kita, memisahkan kita dari Tuhan, sumber kehidupan kita.
Jika kita mencoba meruntuhkan benteng egoisme itu, niscaya kotoran-kotoran dalam diri kita akan tersingkap, dan kita akan malu melihat betapa banyak kotoran melekat dalam diri kita.

Namun Tuhan maha pengasih. Alih-alih mempermalukan kita dengan kotoran-kotoran itu, disingkirkannya kotoran-kotoran tersebut, dan dibersihkannya sang perindu berkat kecintaan kepada-Nya.

Disadur secara amat bebas dari Matsnawi-nya Rumi.


perjalankan wrote on Aug 12, '05
disingkirkannya kotoran-kotoran tersebut, dan dibersihkannya sang perindu berkat kecintaan kepada-Nya.
adakah aku mencintai-Mu?
alifayogananda wrote on Aug 12, '05
adakah aku mencintai-Mu?
hanya Dia-lah yang dapat menilainya...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help