Laki-laki di Atas Benteng..!
Seorang laki-laki, terkurung dalam sebuah benteng yang
tinggi. Dalam kesendiriannya, kesepian melanda jiwanya. Kebosanan, diambilnya
satu bata penyusun benteng, dilemparkannya ke bawah.
Tatkala batu itu sampai di bawah, yang rupanya adalah
sebuah sungai yang mengalir jernih, terdengarlah bunyi percikan air oleh si
laki-laki. Bagi jiwa yang merana itu, bunyi percikan air menimbulkan hasrat dan
kerinduan untuk menemukan air yang ada di bawahnya.
Maka satu persatu
dicopotnya tembok benteng, satu per satu pula dilemparkanya ke bawah. Dan
semakin didengarnya bunyi percikan air, semakin besar kerinduannya.
Hingga suatu
hari, habislah sudah tembok benteng yang mengelilinginya. Dilihatnya kemilau
dan gemericik air yang dirindukannya, yang seolah-olah memanggil-manggilnya.
Namun saat dia melihat dirinya, dilihatnya tubuhnya yang
kumal, penuh berdebu dan kotor oleh bekas-bekas reruntuhan tembok.
Maka dia pun
tergolek, malu akan keadaan dirinya, dan takut dia akan mengotori air sungai
yang jernih kemilau itu.
Terdengarlah
sebuah suara,
Wahai
perinduku, jangan ragu untuk bertemu denganku.
Jangan malu
dengan kotoran yang melekat di badanmu,
Sebab kotoran
itu tak akan mampu mengurangi kejernihanku.
Justru jika
kau tenggelamkan dirimu dalam diriku,
Niscaya kan
sirna seluruh kotoran yang menodaimu..
Kita semua
bagaikan laki-laki dalam benteng itu.
Benteng egoisme
menyelimuti kita, memisahkan kita dari Tuhan, sumber kehidupan kita.
Jika kita mencoba
meruntuhkan benteng egoisme itu, niscaya kotoran-kotoran dalam diri kita akan
tersingkap, dan kita akan malu melihat betapa banyak kotoran melekat dalam diri
kita.
Namun Tuhan maha
pengasih. Alih-alih mempermalukan kita dengan kotoran-kotoran itu, disingkirkannya
kotoran-kotoran tersebut, dan dibersihkannya sang perindu berkat kecintaan
kepada-Nya.
Disadur secara amat bebas dari Matsnawi-nya Rumi.