Ulama-ulama PERSIS yang Kukagumi
Banyak ulama PERSIS di Bandung.
Dari mereka, ada beberapa orang yang sempat saya temui, menangkap setetes dua
tetes ilmu dan kebijaksanaan. Jangan tanyakan apakah mereka kenal siapa saya,
sebab sebagian dari mereka telah menemui Sang Pencipta. Bahkan bagi yang masih
hidup pun, saya sekadar satu di antara ribuan laron yang mendekati lampu yang
bersinar terang.
Latar belakang NU saya (yang
tentunya banyak bergesekan dengan fatwa-fatwa mereka) tidak menghalangi
kekaguman yang memang layak muncul bagi orang-orang yang memang harus dikagumi.
Perbedaan adalah fitrah, kata Mas Yuda,
karena itu memang tidak sepantasnya perbedaan membuat kita bersikap tidak adil
kepada orang “lain”.
Urutan di sini mungkin urutan
seberapa banyak saya mengenal mereka secara relatif. Dan saya hanya membatasi
nama-nama ini pada orang yang memang pernah saya temui sendiri. Semoga Allah
senantiasa meridhai mereka.
1. Almarhum K.H. Josep Çaifud Daulat (dibaca: Yosep
Syaifud-Daulat).
Sahabat penyair Ajip Rosidi ini
adalah pendiri Ma'had Husyainiyah di Cicalengka, sekaligus (menurut beberapa
sumber) 'pemilik' Pesantren Cililin dan Majalaya. 'Pemilik' dengan tanda kutip,
sebab kepemilikan sebuah pesantren tidak bisa disamakan dengan kepemilikan
sebuah lembaga pendidikan formal atau pun lembaga wara laba.
Tempat tinggal beliau di Gang
Bancey sangat sederhana. Rumah dua lantai, lantai pertamanya dijadikan masjid.
Lantai keduanya lebih tepat disebut perpustakaan melihat banyaknya kitab-kitab
klasik dan buku-buku yang ada di sana.
Aktif di PMII pada masa mudanya,
setelah tua menjadi Ketua Korps Muballigh Bandung. Uniknya, Kiai satu ini tidak
terlalu populer di kalangan 'awam', namun di kalangan aktifis pergerakan
periode 60-80an, beliau sangat dikenal. Ada yang menyebut beliau Kiai Okem,
karena rambutnya panjang tergerai, yang sudah sangat menipis pada usia
senjanya. Namun begitu, kalau tidak salah, beliau hafal al-Quran 30 juz.
Lebih unik lagi, di Cicalengka,
pesantren tempat beliau berdomisili di masa-masa terakhirnya, suasana “PERSIS”
sangat tidak kentara. Pesantren itu membaur sekali dengan kultur lokal yang
lebih 'tradisionalis', dan penduduk setempat memperlakukan beliau seperti
memperlakukan kiai-kiai 'tradisional'. Dan, beliau menerima itu semua dengan
lapang dada.
Menurut Kang Cecep Syamsul Hari,
salah seorang penyair Bandung, memang almarhum adalah seorang yang bervisi amat
pluralis. Hampir semua golongan dirangkul, diayomi. Beberapa aktivis mahasiswa
yang kekiri-kirian pun banyak yang suka berdialog dan meminta nasihat kepada
beliau. Anak-anaknya yang saya kenal pun
'pluralis' juga.
Beliau punya ciri khas dalam
memberi nama anak. Nama anak-anaknya hampir selalu terdiri atas 3 suku kata
yang beinisial sama, dan campuran dari berbagai bahasa (Arab, Latin, Inggris,
atau etnik Indonesia). Mungkin ini cara pertama beliau menanamkan pluralisme
kepada anak-anaknya.
Semoga Allah memuliakan beliau di
hari kelahiran, kematian, dan pada saat beliau dibangkitkan kelak. Amin.
2. Almarhum K.H. Endang
Syaifuddin Anshari.
Putra dari tokoh PERSIS Isa
Anshari ini hidupnya 'sangat Sunda' meskipun leluhur beliau adalah orang
Minang. Almarhum ini juga sahabat dari Kiai Josep. Salah seorang ulama yang
disegani yang bermarkas di Masjid Salman. Buku beliau Wawasan Islam menjadi
bahan ajar utama kuliah Agama Islam di ITB dan beberapa kampus di Bandung
selama jangka waktu yang cukup lama. Hebatnya, selain ilmu agama yang dalam,
beliau ini juga amat dekat dengan dunia penyair, sering menggubah puisi yang
indah-indah. Sayang, saya belum pernah menemukan kumpulan puisi atas nama
beliau. Saya harap Anda bisa mengontak saya kalau ternyata ada. Banyak dari
puisi beliau adalah puitisasi hadits-hadits Nabi.
Kiai yang satu ini, amat dekat
dengan pemikiran madzhab Ibnu Hazm, dan sangat intens terlibat dengan aksi-aksi
pemberdayaan kaum dhuafa. Seperti Kiai Josep di atas, beliau juga tidak menolak
diperlakukan seperti kiai tradisional. Banyak ulama modernis yang cenderung
menolak untuk dicium tangannya oleh ummat. Namun kedua Kiai ini sangat memahami
latar belakang cium tangannya kaum tradisionalis. Karena itu mereka tidak
pernah keberatan dicium tangannya oleh jamaah (yang tradisional).
Perhatian beliau kepada kaum
dhuafa sangat tercermin dari beberapa ceramah beliau yang saya ikuti, dan
beberapa program yang merupakan gagasan beliau.
Semoga Allah memuliakan beliau di
hari kelahiran, kematian, dan pada saat beliau dibangkitkan kelak. Amin.
3. Ustadz Aam Amiruddin.
Ustadz muda ini selalu
mengedepankan kemampuan beliau sebagai sarjana komunikasi dalam berdakwah.
Dakwahnya sering dibumbui candaan-candaan yang sehat dan segar, (kalau Kiai di
lingkungan saya dulu candaannya sering 'nyrempet-nyrempet'), sampai seorang
(mantan) direktur sebuah software house di Bandung pernah berkata, “Wah.. ikut
pengajian Pak Aam mah ketawa melulu, sampai kadang isi ceramahnya nggak
ketangkep...”.
Satu hal yang saya kagumi dari
beliau adalah kemampuan beliau untuk mengoreksi diri. Bila suatu saat beliau
meyakini suatu pendapat, dan ternyata kemudian menyadari bahwa pendapat itu
kurang benar, beliau tidak segan untuk mengakuinya di depan jamaah, bahkan
untuk masalah yang sensitif. Padahal banyak sekali Ustadz yang “jaim” kalau
sudah menyangkut kesalahan pribadi.
Semoga beliau dapat lebih
bersinar lagi di masa-masa mendatang.