Blog EntryUlama-ulama PERSIS yang Saya KagumiAug 9, '05 8:56 AM
for everyone

Ulama-ulama PERSIS yang Kukagumi

 

Banyak ulama PERSIS di Bandung. Dari mereka, ada beberapa orang yang sempat saya temui, menangkap setetes dua tetes ilmu dan kebijaksanaan. Jangan tanyakan apakah mereka kenal siapa saya, sebab sebagian dari mereka telah menemui Sang Pencipta. Bahkan bagi yang masih hidup pun, saya sekadar satu di antara ribuan laron yang mendekati lampu yang bersinar terang.

Latar belakang NU saya (yang tentunya banyak bergesekan dengan fatwa-fatwa mereka) tidak menghalangi kekaguman yang memang layak muncul bagi orang-orang yang memang harus dikagumi. Perbedaan adalah fitrah, kata Mas Yuda, karena itu memang tidak sepantasnya perbedaan membuat kita bersikap tidak adil kepada orang “lain”.

Urutan di sini mungkin urutan seberapa banyak saya mengenal mereka secara relatif. Dan saya hanya membatasi nama-nama ini pada orang yang memang pernah saya temui sendiri. Semoga Allah senantiasa meridhai mereka.

1. Almarhum K.H. Josep Çaifud Daulat (dibaca: Yosep Syaifud-Daulat).

Sahabat penyair Ajip Rosidi ini adalah pendiri Ma'had Husyainiyah di Cicalengka, sekaligus (menurut beberapa sumber) 'pemilik' Pesantren Cililin dan Majalaya. 'Pemilik' dengan tanda kutip, sebab kepemilikan sebuah pesantren tidak bisa disamakan dengan kepemilikan sebuah lembaga pendidikan formal atau pun lembaga wara laba.

Tempat tinggal beliau di Gang Bancey sangat sederhana. Rumah dua lantai, lantai pertamanya dijadikan masjid. Lantai keduanya lebih tepat disebut perpustakaan melihat banyaknya kitab-kitab klasik dan buku-buku yang ada di sana.

Aktif di PMII pada masa mudanya, setelah tua menjadi Ketua Korps Muballigh Bandung. Uniknya, Kiai satu ini tidak terlalu populer di kalangan 'awam', namun di kalangan aktifis pergerakan periode 60-80an, beliau sangat dikenal. Ada yang menyebut beliau Kiai Okem, karena rambutnya panjang tergerai, yang sudah sangat menipis pada usia senjanya. Namun begitu, kalau tidak salah, beliau hafal al-Quran 30 juz.

Lebih unik lagi, di Cicalengka, pesantren tempat beliau berdomisili di masa-masa terakhirnya, suasana “PERSIS” sangat tidak kentara. Pesantren itu membaur sekali dengan kultur lokal yang lebih 'tradisionalis', dan penduduk setempat memperlakukan beliau seperti memperlakukan kiai-kiai 'tradisional'. Dan, beliau menerima itu semua dengan lapang dada.

Menurut Kang Cecep Syamsul Hari, salah seorang penyair Bandung, memang almarhum adalah seorang yang bervisi amat pluralis. Hampir semua golongan dirangkul, diayomi. Beberapa aktivis mahasiswa yang kekiri-kirian pun banyak yang suka berdialog dan meminta nasihat kepada beliau.  Anak-anaknya yang saya kenal pun 'pluralis' juga.

Beliau punya ciri khas dalam memberi nama anak. Nama anak-anaknya hampir selalu terdiri atas 3 suku kata yang beinisial sama, dan campuran dari berbagai bahasa (Arab, Latin, Inggris, atau etnik Indonesia). Mungkin ini cara pertama beliau menanamkan pluralisme kepada anak-anaknya.

Semoga Allah memuliakan beliau di hari kelahiran, kematian, dan pada saat beliau dibangkitkan kelak. Amin.

2. Almarhum K.H. Endang Syaifuddin Anshari.

Putra dari tokoh PERSIS Isa Anshari ini hidupnya 'sangat Sunda' meskipun leluhur beliau adalah orang Minang. Almarhum ini juga sahabat dari Kiai Josep. Salah seorang ulama yang disegani yang bermarkas di Masjid Salman. Buku beliau Wawasan Islam menjadi bahan ajar utama kuliah Agama Islam di ITB dan beberapa kampus di Bandung selama jangka waktu yang cukup lama. Hebatnya, selain ilmu agama yang dalam, beliau ini juga amat dekat dengan dunia penyair, sering menggubah puisi yang indah-indah. Sayang, saya belum pernah menemukan kumpulan puisi atas nama beliau. Saya harap Anda bisa mengontak saya kalau ternyata ada. Banyak dari puisi beliau adalah puitisasi hadits-hadits Nabi.

Kiai yang satu ini, amat dekat dengan pemikiran madzhab Ibnu Hazm, dan sangat intens terlibat dengan aksi-aksi pemberdayaan kaum dhuafa. Seperti Kiai Josep di atas, beliau juga tidak menolak diperlakukan seperti kiai tradisional. Banyak ulama modernis yang cenderung menolak untuk dicium tangannya oleh ummat. Namun kedua Kiai ini sangat memahami latar belakang cium tangannya kaum tradisionalis. Karena itu mereka tidak pernah keberatan dicium tangannya oleh jamaah (yang tradisional).

Perhatian beliau kepada kaum dhuafa sangat tercermin dari beberapa ceramah beliau yang saya ikuti, dan beberapa program yang merupakan gagasan beliau.

Semoga Allah memuliakan beliau di hari kelahiran, kematian, dan pada saat beliau dibangkitkan kelak. Amin.

3. Ustadz Aam Amiruddin.

Ustadz muda ini selalu mengedepankan kemampuan beliau sebagai sarjana komunikasi dalam berdakwah. Dakwahnya sering dibumbui candaan-candaan yang sehat dan segar, (kalau Kiai di lingkungan saya dulu candaannya sering 'nyrempet-nyrempet'), sampai seorang (mantan) direktur sebuah software house di Bandung pernah berkata, “Wah.. ikut pengajian Pak Aam mah ketawa melulu, sampai kadang isi ceramahnya nggak ketangkep...”.

Satu hal yang saya kagumi dari beliau adalah kemampuan beliau untuk mengoreksi diri. Bila suatu saat beliau meyakini suatu pendapat, dan ternyata kemudian menyadari bahwa pendapat itu kurang benar, beliau tidak segan untuk mengakuinya di depan jamaah, bahkan untuk masalah yang sensitif. Padahal banyak sekali Ustadz yang “jaim” kalau sudah menyangkut kesalahan pribadi.

Semoga beliau dapat lebih bersinar lagi di masa-masa mendatang.


19 CommentsChronological   Reverse   Threaded
bundakirana wrote on Aug 9, '05
Ustadz Aam Amiruddin.
oh, kalo ini saya juga nge-fans...selain lucu, ganteng lagi, hehehe
mamieksyamil wrote on Aug 9, '05
Kenal sama Ustadz Uus nggak? Beliau banyak berjasa buat saya :)...dan dari beliau saya mengenal PERSIS.
ingwuri wrote on Aug 9, '05, edited on Aug 9, '05
Para 'alim telah mengajari kita tatacara berperilaku, sayang banyak yang alpa
yuda wrote on Aug 9, '05
aku ga begitu kenal sama ulama persis. tp aku punya kawan anak persis. uenak diajak ngobrol.:)
solihin wrote on Aug 10, '05
Numpang tanya, pertanyaan yang amat awam. Apa sih bedanya antara persis, NU, Muhamadiyah dan lainnya. Terus terang enggak tahu bedanya di sebelah mananya.
bundakirana wrote on Aug 10, '05
solihin said
NU, Muhamadiyah dan lainnya. Terus terang enggak tahu bedanya di sebelah mananya
antara NU dan muhammadiyah saya tau dikit2 (dulu pengurus Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UNPAD), kalo Persis...nah, saya juga nggak tau sebelah mananya;-P
wahyu25 wrote on Aug 10, '05, edited on Aug 10, '05
Mohon maaf dijawab secara awam juga ...
NU, Muhammadiyah dan Persis itu beda yang utama ada pada namanya ... thats for sure
(maaf yach jgn diseriusin, peace)
solihin wrote on Aug 10, '05
antara NU dan muhammadiyah saya tau dikit2
Walaupun sedikit, tolong dong terangkan Bu. Singkat saja.
bundakirana wrote on Aug 10, '05
solihin said
Walaupun sedikit, tolong dong terangkan Bu. Singkat saja.
Muhammadiyah itu ketuanya Din Syamsudin,
NU ketuanya Hasyim Muzadi,
Muhammadiyah nggak boleh tahlilan dan kasih makan pas ada kematian (makanya, di Pdg tuh, kalo ada org meninggal, ketika kita melayat, saya dilarang sama babe untuk minum/makan hidangan yg disajikan tuan rumah)
NU; boleh2 aja...sayang kan, udah dihidangkan, kok gak boleh dimakan
(kekekek....jgn dianggap serieus loh....)
solihin wrote on Aug 10, '05
Muhammadiyah itu ketuanya Din Syamsudin,
NU ketuanya Hasyim Muzadi,
Muhammadiyah nggak boleh tahlilan dan kasih makan pas ada kematian
Tadinya saya kira ada beda yang kontras, ternyata cuma gitu-gitu aja bedanya. Kalau cuma gitu maka bisa tukeran tempat. GusDur atau pak Hasim jadi boss di Muhamadiyah dan pak Amin di NU. baru asyik tuh.
bundakirana wrote on Aug 10, '05
solihin said
Tadinya saya kira ada beda yang kontras, ternyata cuma gitu-gitu aja bedanya.
Kalo kita baca tulisan Mas Alifa (mengapa hrs berbeda), jelas bahwa perbedaan2 yg ada itu sebenarnya emang cuma 'gitu2' aja...cuma bagi sbgn org itu masalah yg besoarrrr... di Sumatera Barat, kampung saya, saya beberapa kali mengalami sendiri ada yg bangun mesjid baru gara2 beda rakaat tarawih... ada pula kasus pengurus masjid yg ngambek, akhirnya gak mau ke masjid yg 'ini', lalu pindah sholat ke masjid yg 'itu'.

Pemandangan unik saya saksikan di Suriah, satu masjid sholatnya caranya beda2...bahkan ada yg imam-makmum, mereka gaya sholatnya beda2, hehehe...
Mudah2an masyarakat Indonesia bisa segera dewasa dan bisa menerima perbedaan, tanpa perlu gontok2an.
alifayogananda wrote on Aug 11, '05
oh, kalo ini saya juga nge-fans...selain lucu, ganteng lagi, hehehe
awass... kuforward ke Pedar Kirana, nanti....!
*mode galak on*
alifayogananda wrote on Aug 11, '05
wahyu25 said
NU, Muhammadiyah dan Persis itu beda yang utama ada pada namanya
yang jelas, dari dulu saya selalu bilang, orang NU itu "maqom"-nya lebih tinggi dari orang Persis.
Soalnya "maqom" orang NU ditinggikan, sedang "maqom" orang Persis diratakan dengan tanah.
kalau muhammadiyah, mungkin sama "maqom" nya dengan NU... (jarang ngamatin kubur orang Muhammadiyah...)
bundakirana wrote on Aug 11, '05
awass... kuforward ke Pedar Kirana, nanti....!
*mode galak on*
ndak papa...dia tau kok kalo sekarang dimataku dialah pria terganteng di dunia, kekeke
perjalankan wrote on Aug 11, '05
yang jelas, dari dulu saya selalu bilang, orang NU itu "maqom"-nya lebih tinggi dari orang Persis.
Soalnya "maqom" orang NU ditinggikan, sedang "maqom" orang Persis diratakan dengan tanah.
kalau muhammadiyah, mungkin sama "maqom" nya dengan NU... (jarang ngamatin kubur orang Muhammadiyah...)
hahahahahaha .........
fahmifarhan wrote on Aug 11, '05
. Almarhum K.H. Josep Çaifud Daulat (dibaca: Yosep Syaifud-Daulat).

Sahabat penyair Ajip Rosidi ini adalah pendiri Ma'had Husyainiyah di Cicalengka, sekaligus (menurut beberapa sumber) 'pemilik' Pesantren Cililin dan Majalaya. 'Pemilik' dengan tanda kutip, sebab kepemilikan sebuah pesantren tidak bisa disamakan dengan kepemilikan sebuah lembaga pendidikan formal atau pun lembaga wara laba.

dan Ali rajin berkhidmat kepada beliau :D :D :D
alifayogananda wrote on Aug 12, '05
dan Ali rajin berkhidmat kepada beliau :D :D :D
He.... gak usah bongkar rahasia di depan umum....
(hkhkhkhkhkhkhhhhh....)
fahmifarhan wrote on Aug 14, '05
He.... gak usah bongkar rahasia di depan umum....
(hkhkhkhkhkhkhhhhh....)
He.... gak usah bongkar rahasia di depan umum....
(hkhkhkhkhkhkhhhhh....)

gak....
awaludin wrote on Dec 5, '06
oh, kalo ini saya juga nge-fans...selain lucu, ganteng lagi, hehehe
Istri saya juga dulu ngefans sama Aam, dan juga Aa Gym. Tapi setelah kedua poligami, ngga mau denger lagi ah, katanya. Hehehe.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help