JUSTICE, YES (if
it is for me),
but I DO NOT CARE
(if it is for them)
Coba kau tanyakan kepadaku,
siapa
orang baik di sekelilingku?
Niscaya
akan kujawab,
orang
baik adalah mereka yang berbuat baik kepadaku,k
epada
keluargaku, dan kepada teman-teman dan sahabat-sahabatku.
Tanyakan
pula, siapa orang-orang yang kuanggap bijak?
Orang-orang
bijak adalah mereka yang sefaham denganku,
yang
tidak pernah mengkritik madzhabku,
atau
menghujat golonganku, partaiku, keluargaku dan teman-temanku.
Tanyakan
lagi, siapakah orang-orang adil itu?
Adalah
mereka yang berbuat adil bagiku,
bagi
keluargaku, teman-temanku, dan kelompokku.
Catatlah,
takkan
kuanggap baik orang yang merugikanku,
keluargaku,
kelompokku, dan teman-temanku,
meskipun
di tempat lain, orang itu adalah filantropis,
penyayang,
dan penebar sedekah.
Catat
pula,
takkan
kuanggap bijak orang yang suka mengeritikku,
madzhabku,
ustadzku, dan golonganku,
meskipun
ilmunya seluas cakrawala dan sedalam samudera
Dan
juga,
bukanlah
sebuah keadilan bagiku,
manakala
yang dianggap keadilan itu merugikanku,
merugikan
keluargaku atau golonganku,
meskipun
katanya telah diputuskan sesuai hukum yang berlaku.
Buat
apa aku peduli,
jika
yang ditimpa ketidakadilan adalah musuhku,
musuh
keluargaku, atau lawan golonganku.
Selama
ketidakadilan itu tidak menimpaku, keluargaku, atau kelompokku,
maka
aku akan dapat berkata kepada mereka,
“Hormatilah
hukum yang berlaku…”
(Apalagi
bila ketidakadilan itu menguntungkanku!)
Makanya
jangan pernah tanya aku,
di
mana suaraku saat seorang gubernur terpilih dimakzulkan dengan zalim,
saat
hak seorang bacapres dipinggirkan,
saat
hak jutaan buruh untuk memperoleh THR diabaikan,
saat
ribuan karyawan PTDI menempuh ribuan kilometer
menuntut
haknya yang bahkan tak cukup untuk membiayai perjalanan mereka.
Semua
itu tak jadi soal buatku,
sebab
TAK PERNAH aku melabeli diriku sebagai penegak keadilan.