Blog EntryAhmadiyah-nya Ibu-ibuAug 7, '05 9:50 PM
for everyone

Ahmadiyyah Versi Ibu-ibu

Ternyata beberapa Ibu-ibu di Bandung punya versi Ahmadiyah yang sangat berbeda dari yang disesatkan oleh MUI.

Dalam perjalanan ke kampus, aku mendengar dua orang ibu-ibu sedang asyik memperbincangkan soal Ahmadiyah. Kudengar dari awal, Ibu A penuh semangat  bercerita mulai dengan dialog MUI di TVRI Bandung, termasuk di dalamnya anjuran MUI untuk tidak menggunakan nama Islam. Sebut saja Ahmadiyah. Bukan Islam Ahmadiyah. Sampai di sini dialog mereka masih biasa saja.

Nah, pada bagian curhat-lah aku jadi senyum-senyum sendiri.


Ibu B:  “Eh.. itu, ada tetangga saya yang sebelumnya teh biasa-biasa aja kaya kita, tapi setelah dia mendalami Islam, katanya di sekitar jalan Suryalaya, dia jadi nggak mau ikut arisan, loh.. Katanya haram, ada unsur judi…”

Ibu A:  (dengan penuh semangat) “Lha… itu tuh yang namanya Ahmadiyah..”

Deg…, aku jadi tertarik..

Ibu B:  “Terus habis itu, sekarang dia kalau ikut tahlil atau yasinan, dia nggak ikutan baca tahlil atau yasin. Dia pegang aja buku tahlil, lalu dibolak-balik bari cicing..”

Ibu A:  (dengan lebih semangat) “Iya… begitu itu tuh Ahmadiyah…”

Ibu B:  “Ooo kitu, nya?”


Dalam hati aku nyengir. Biasanya ibu-ibu yang begini besar dalam tradisi NU. Jadi, mungkin mereka mengagumi Gus Dur juga. Nah, jangan-jangan kalau pada waktu Amin Rais, Megawati, dsb melengserkan Gus Dur sudah ada isu Ahmadiyah, si Ibu itu akan bilang, “Lah itu tuh, Amin Rais dan Megawati itu Ahmadiyah…” Atau waktu mendengar ada Ketua MUI yang menghalalkan SDSB, dia  akan bilang, “Lah MUI tuh… Ahmadiyah..”


ingwuri wrote on Aug 7, '05
Aku juga pingiiin nulis itu, Saat MUI dulu menghalalkan SDSB, saat MUI dulu memaafkan Harmoko saat mbaca Fatihah salah di Solo. Saat aku dimarahi saat wawancarai dengan pak ketua MUI sekarang karena tidak bisa menjawab itu.
alifayogananda wrote on Aug 8, '05
ingwuri said
Saat aku dimarahi saat wawancarai dengan pak ketua MUI sekarang karena tidak bisa menjawab itu.
saat orang tidak mau mengakui kesalahannya,
saat orang tidak tahu harus membuat pembenaran apa,
satu-satunya senjata dia adalah marah...

alangkah sedihnya,
orang-orang yang seharusnya berhati seluas samudera,
membenamkan dirinya ke dangkal dan sempitnya cawan minum dia.
yuda wrote on Aug 8, '05
hihihihihihihi lucunya.:)
bundakirana wrote on Aug 8, '05
alangkah sedihnya,
orang-orang yang seharusnya berhati seluas samudera,
membenamkan dirinya ke dangkal dan sempitnya cawan minum dia.
kayaknya ketularan Rumi ya Mas?
alifayogananda wrote on Aug 8, '05, edited on Aug 8, '05
Hmm...
Sebenarnya saya nyegir peurih.. menurut saya itu tragis, Mas.
Setiap kali muncul isu "kesesatan baru", lalu muncul kambing hitam baru.
Segala perbedaan yang ditemui, diberi label "kambing hitam" tsb.
Mungkin mirip dengan kasus 'g30s" yang sering ditulis oleh ingwuri.
Saya juga jadi ikut bertanya-tanya seperti Mas Yuda. Setelah Ahmadiyah, apa lagi "cap kambing hitam" yang bakal dirilis oleh MUI, atau mungkin juga oleh pemerintah.
Ingat kan, tahun 99, orang yang beda dengan publik dikit dicap: Anti Reformasi..
Btw, sudah baca tulisan Kang Ahmad Sahal di Kompas? Bahwa fanatisasi dan eksklusifisasi kebenaran hanya akan menghasilkan fasis dan diktator..
alifayogananda wrote on Aug 9, '05
kayaknya ketularan Rumi ya Mas?
Bukaaaan....
Ketularan mBak Dian (ummiss) ... hehehe...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help