Ahmadiyyah Versi Ibu-ibu
Ternyata beberapa Ibu-ibu di Bandung punya versi Ahmadiyah yang sangat berbeda dari yang disesatkan oleh MUI.
Dalam perjalanan ke kampus, aku mendengar dua orang ibu-ibu sedang asyik memperbincangkan soal Ahmadiyah. Kudengar dari awal, Ibu A penuh semangat bercerita mulai dengan dialog MUI di TVRI Bandung, termasuk di dalamnya anjuran MUI untuk tidak menggunakan nama Islam. Sebut saja Ahmadiyah. Bukan Islam Ahmadiyah. Sampai di sini dialog mereka masih biasa saja.
Nah, pada bagian curhat-lah aku jadi senyum-senyum sendiri.
Ibu B: “Eh.. itu, ada tetangga saya yang sebelumnya teh biasa-biasa aja kaya kita, tapi setelah dia mendalami Islam, katanya di sekitar jalan Suryalaya, dia jadi nggak mau ikut arisan, loh.. Katanya haram, ada unsur judi…”
Ibu A: (dengan penuh semangat) “Lha… itu tuh yang namanya Ahmadiyah..”
Deg…, aku jadi tertarik..
Ibu B: “Terus habis itu, sekarang dia kalau ikut tahlil atau yasinan, dia nggak ikutan baca tahlil atau yasin. Dia pegang aja buku tahlil, lalu dibolak-balik bari cicing..”
Ibu A: (dengan lebih semangat) “Iya… begitu itu tuh Ahmadiyah…”
Ibu B: “Ooo kitu, nya?”
Dalam hati aku nyengir. Biasanya ibu-ibu yang begini besar dalam tradisi NU. Jadi, mungkin mereka mengagumi Gus Dur juga. Nah, jangan-jangan kalau pada waktu Amin Rais, Megawati, dsb melengserkan Gus Dur sudah ada isu Ahmadiyah, si Ibu itu akan bilang, “Lah itu tuh, Amin Rais dan Megawati itu Ahmadiyah…” Atau waktu mendengar ada Ketua MUI yang menghalalkan SDSB, dia akan bilang, “Lah MUI tuh… Ahmadiyah..”