***
Perjalanan membawa dia ke
bangku kuliah. Aktivitas di masjid kampus mengenalkannya pada dunia pemikiran
Islam, Tasawuf dan Filsafat. Buku-buku tasawuf memperkenalkannya pada
Al-Ghazali, Ibnu Arabi, Al-Muhasibi, Al-Khusyairi, dsb. Buku-filsafat menghadirkan
Ibnu Sina, Muthahhari, Ali Syariati, Fazlur Rahman, Al-Faruqi, dsb. Buku-buku
pemikiran Islam membawa Emha Ainun Najib, Nurcholis Majid, Amin Rais,
Jalaluddin Rakhmat, Muhammad Al-Ghazali, Hassan Al-Bana, Abdurrahman Wahid, dsb
ke dalam rumah perenungan dia. Perbedaan-perbedaan yang bertubi-tubi merasuki
alam pikirannya itu membuatnya semakin sadar, bahwa perbedaan NU-Muhammadiyah
itu tidak sampai seujung kuku perbedaan-perbedaan aliran pemikiran dalam dunia
yang nyata.
Mungkin karena pada saat itu
dia sudah merasa cukup terpukul dengan kesalahan fanatisme perbedaan
NU-Muhammadiyah pada saat SMA, kali ini dia mengambil sudut yang berbeda.
Diambilnya sudut empatik untuk memahami setiap aliran. Tasawuf mengajarkan
untuk mencintai semua makhluk. binatang, tumbuhan, bahkan orang kafir sekalipun
harus dicintai sebagai perwujudan rahmatan li -l‘alamin. Filsafat
mengajarkan untuk senantiasa mencari kebenaran, menggigit dengan gigi taring
setiap kebenaran yang kita yakini, namun pada saat itu juga sibuk mencari
kebenaran yang lebih hakiki. Pemikiran para cendekiawan mengajarkan untuk
selalu berusaha mempersatukan hati, tenaga, dan sumber daya umat dalam satu
kekuatan yang padu.
Maka kembali ke dalam diri
kita-lah segalanya terpulang. Ingin memegang teguh kebenaran seperti si anak
kecil yang selalu menyalahkan semua yang ‘berbeda’ dengan yang biasanya (atau
yang dia yakini), atau kita membuka diri dan menerbangkan diri ke dalam
cakrawala pemikiran yang seluas semesta.
Sayyid Jamaaluddin Al-Afghani,
menurut kang Jalal dalam Islam Aktual, semua orang memperebutkan beliau. Orang
Afgan paling merasa memiliki beliau, sebab dari namanya saja Al-Afghani. Orang Iran pun mengklaim, sebab orang tuanya seorang
Sayyid dari Iran
yang jadi imigran di Afganistan. Orang Arab Saudi gak mau ketinggalan, sebab
beliau itu belajar dan beraktifitasnya di Mekah dan Medinah. Lantas orang Mesir
pun mengklaim juga, sebab kedekatan beliau dengan organisasi Ikhwanul-Muslimin.
Yang jelas, orang Syiah, Sunni, mungkin juga Ahmadiyah, mengakui kebesaran
Jamaluddin Al Afghani.
Tapi kita dapat juga memilih
untuk seperti anak kecil yang fanatik dengan mesjidnya itu. Semua yang berbeda
dengan “saya”, tidak sepaham dengan “kelompok saya”, adalah sesat. Kebenaran
hanya milik saya dan kelompok saya. Hanya saya dan kelompok saya-lah yang
sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah. Yang lain bid’ah.
Wa maa taufiiqii illa
billaah…